Rabu 21 Sep 2022 08:03 WIB

Pimpinan Bank Sentral Eropa Dukung Kenaikan Suku Bunga untuk Turunkan Inflasi

Kawasan euro berada dalam sepuluh bulan terakhir dengan tingkat inflasi tertinggi.

Bank Sentral Eropa
Foto: vb.com
Bank Sentral Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, FRANKFURT -- Ketua Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Selasa (20/9/2022) membela keputusan bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara paksa dan berjanji untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut guna menjinakkan inflasi.

"Bergerak lebih cepat di awal siklus kenaikan jelas menunjukkan komitmen kami untuk menurunkan inflasi ke target jangka menengah kami," kata Lagarde saat berpidato di acara Karl-Otto-Poehl Lecture di Frankfurt.

Karena inflasi di kawasan euro melayang pada tingkat historis tinggi, ECB menaikkan suku bunga utama dua kali tahun ini dengan total 125 basis poin. Ketua ECB menegaskan bahwa inflasi di kawasan euro, yang dulunya rendah untuk waktu yang lama, sekarang terlalu tinggi.

Dia memperingatkan bahwa kawasan euro berada dalam sepuluh bulan berturut-turut dengan tingkat inflasi tertinggi dan akan terus demikian dalam waktu dekat. Hambatan pasokan, ditambah dengan permintaan jasa yang terpendam telah menyebabkan inflasi meluas ke industri barang dan jasa-jasa.

Lonjakan harga energi, yang dimulai ketika pasokan dibatasi dan diperparah oleh konflik Ukraina telah menjadi sumber utama inflasi di kawasan euro.

Ketika Uni Eropa mencoba untuk menurunkan ketergantungannya pada energi Rusia dan melakukan transisi ke energi hijau, Lagarde percaya bahwa hal itu akan mempengaruhi pasokan dan harga-harga jika harga energi lebih tinggi berlangsung lama.

Mengingat inflasi tinggi yang terus-menerus di kawasan euro, ECB perlu menormalkan kebijakan moneter dan "menyesuaikan suku bunga sebanyak yang diperlukan untuk mencapai target inflasi kami dalam jangka menengah," kata Lagarde.

"Kami tidak akan membiarkan fase inflasi tinggi ini mempengaruhi perilaku ekonomi dan menciptakan masalah inflasi yang berkepanjangan," katanya.

 

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement