Senin 01 Aug 2022 23:00 WIB

BI Perkirakan The Fed tak Akan Lagi Agresif Tingkatkan Suku Bunga

The Fed baru saja meningkatkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed tak akan lagi bersifat agresif dalam meningkatkan suku bunga acuan ke depannya karena mempertimbangkan peningkatan risiko resesi di Negeri Paman Sam.
Foto: ANTARA/Galih Pradipta
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed tak akan lagi bersifat agresif dalam meningkatkan suku bunga acuan ke depannya karena mempertimbangkan peningkatan risiko resesi di Negeri Paman Sam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed tak akan lagi bersifat agresif dalam meningkatkan suku bunga acuan ke depannya karena mempertimbangkan peningkatan risiko resesi di Negeri Paman Sam.

"Ini yang memang menjadi asesmen baik dari BI maupun pasar dengan kemarin adanya kenaikan suku bunga yang agresif dari Fed," ujar Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III Tahun 202 di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Baca Juga

Adapun Fed baru saja meningkatkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) dalam pertemuan bulan Juli 2022 sehingga bunga kebijakan The Fed kini menjadi 2,25 persen hingga 2,5 persen. Dalam pertemuan tersebut pada awalnya Ketua Fed Jerome Powell meyakini AS masih jauh dari resesi, namun sehari setelahnya Negeri Adidaya memasuki resesi teknikal usai rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II-2020 yang mencatat kontraksi 0,9 persen (year-on-year/yoy) sehingga menjadikan adanya pertumbuhan negatif dua kuartal beruntun.

Dengan perkembangan itu, Perry memproyeksikan Fed akan meningkatkan suku bunga acuan lebih rendah, yakni 50 bps pada pertemuan berikutnya di bulan September 2022."Memang ada upward risk kenaikan bunga acuan sebesar 75 bps pada bulan September 2022, tapi dengan risiko data resesi kemungkinannya adalah 50 bps," tuturnya.

Selanjutnya pada triwulan keempat tahun ini, ia memperkirakan Otoritas Moneter AS akan menaikkan bunga acuan dengan tingkat yang lebih rendah lagi, yakni 25 bps atau 50 bps.Meski The Fed maupun bank sentral dunia lainnya meningkatkan suku bunga acuan, dirinya pun menekankan hal tersebut tidak menjadikan BI otomatis meningkatkan suku bunga kebijakan pula.

"Semuanya tergantung kondisi di dalam negeri, kebijakan suku bunga BI didasarkan pada proyeksi inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement