Senin 01 Aug 2022 13:54 WIB

BPS: Harga Pangan Impor Mulai Alami Penurunan

Situasi harga pangan global masih cenderung tinggi jika dilihat tren sejak awal tahun

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Pekerja memasukkan kacang kedelai ke dalam karung di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, mulai terjadi penurunan sejumlah harga komoditas pangan utama global yang diimpor Indonesia.
Foto: Prayogi/Republika.
Pekerja memasukkan kacang kedelai ke dalam karung di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, mulai terjadi penurunan sejumlah harga komoditas pangan utama global yang diimpor Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, mulai terjadi penurunan sejumlah harga komoditas pangan utama global yang diimpor Indonesia. Kendati demikian, situasi harga pangan global masih cenderung tinggi jika dilihat tren sejak awal tahun.

Komoditas utama yang dicatat mulai mengalami penurunan di antaranya, gandum, gula, kedelai, serta urea sebagai bahan baku pupuk untuk sektor pertanian.

Baca Juga

"Harga komoditas global pada bulan Juni ada penurunan meski dari Februari 2022 tetap dalam tren peningkatan," kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/8/2022).

BPS mencatat, rata-rata harga gandum dunia sepanjang Juni 2022 sebesar 459,6 dolar AS per metrik ton. Harga tersebut mengalami penurunan signifikan 12,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, dibanding Juni 2021, harga tersebut 60,95 persen lebih tinggi.

 

Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) dalam kesempatan terpisah pun menyatakan, saat ini harga gandum kemungkinan telah mencapai puncak tertinggi. Fluktuasi harga setidaknya akan berlangsung hingga 12 bulan ke depan sehingga pada akhir 2023 diyakini harga akan mulai menurun.

Selanjutnya, harga gula dunia tercatat 0,42 dolar AS per kg. Turun 2,05 persen dari Juni naum masih meningkat 9,43 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Adapun, untuk kedelai, tercatat sebesar 737,1 dolar AS per metrik ton. Harga kedelai memang terjadi kenaikan namun hanya 1,79 persen dari bulan sebelumnya. Adapun, jika dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, kenaikan harga kedelai sekitar 19,9 persen.

Terakhir, harga urea tercatat 690 dolar AS per metrik ton. Margo mengatakan, harga mengalami penurunan 2,4 persen dibandingkan Mei 2022 namun tetap naik 75,4 persen dibandingkan Juni 2021.

"Urea adalah input di sektor pertanian sehingga nantinya akan berpengaruh pada nilai tukar petani," kata Margo. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement