Selasa 21 Dec 2021 11:00 WIB

Jelang Nataru Masyarakat tak Perlu Panik, Daerah Penyangga Cabai Siap Suplai

Beberapa daerah penyangga produksi cabai diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai

Beberapa daerah penyangga produksi cabai seperti Sumedang, Bandung dan Banyuwangi serta di lokasi Gerakan Tanam di Pacitan, Badung, dan Temanggung akan diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai ke wilayah Jabodetabek.
Foto: Kementan
Beberapa daerah penyangga produksi cabai seperti Sumedang, Bandung dan Banyuwangi serta di lokasi Gerakan Tanam di Pacitan, Badung, dan Temanggung akan diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai ke wilayah Jabodetabek.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa daerah penyangga produksi cabai seperti Sumedang, Bandung dan Banyuwangi serta di lokasi Gerakan Tanam di Pacitan, Badung, dan Temanggung akan diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai ke wilayah Jabodetabek. Ini dilakukan untuk penambahan stok menjelang Natal dan Tahun Baru sekaligus stabilisasi harga. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam pesan tertulis, Selasa (21/12).

Kementerian Pertanian menurut Prihasto menaruh perhatian besar atas fluktuasi dan upaya stabilisasi harga cabai. Harga aneka cabai meningkat di akhir tahun menurutnya merupakan hal yang kerap terjadi dalam satu tahun musim tanam.

Baca Juga

"Beberapa penyebab meningkatnya harga aneka cabai antara lain curah hujan ekstrim yang terus terjadi sejak awal November mengakibatkan berkurangnya hasil petikan panen petani, dengan kata lain produksi tidak optimal sehingga terjadi penurunan supply," ujarnya.

photo
Beberapa daerah penyangga produksi cabai seperti Sumedang, Bandung dan Banyuwangi serta di lokasi Gerakan Tanam di Pacitan, Badung, dan Temanggung akan diinstruksikan untuk melakukan suplai cabai ke wilayah Jabodetabek. - (Kementan)

 

Penurunan suplai, kata Prihasto, berdampak pada kondisi surplus dan minus secara nasional. Indikator surplus di bawah 10 ribu ton per bulan selalu sensitif atas pergerakan harga. "Beberapa langkah konkrit yang terus dilakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini antara lain terus menginformasikan Early Warning System (EWS) kepada daerah daerah sentra maupun non sehingga secara bersama sama melakukan langkah antisipasi. Selain itu bersama dengan Badan Ketahanan Pangan untuk terus memantau stok panenan dan di pengepul secara mingguan di lapangan. Jika diperlukan biasanya dilakukan operasi pasar," papar Prihasto.

Selain itu, peningkatan konsumsi cabai menurut Prihasto juga disebabkan karena membaiknya penanganan Covid 19 di seluruh wilayah dan telah dimulainya sektor pariwisata dan tempat tempat hiburan masyarakat sudah mulai dilakukan relaksasi.

Sementara, terjadinya erupsi Semeru Kabupaten Lumajang sebagai salah satu sentra Cabai penyangga Jawa Timur dan wilayah Jawa lainnya turut mempengaruhi sehingga harga terkontraksi khususnya di pasar induk cabai Pasar Pare Kediri, karena ada sekitar 110 hektare (ha) panenan aneka cabai yang terdampak.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha, mengatakan bahwa psikologi pasar akhir tahun mendekati natal dan tahun baru juga secara simultan memberi tekanan pada pasar. Meskipun demikian, data dari daerah sentra menyebutkan pasokan cabai hingga akhir tahun terpantau aman.

"Data luas tanam yang bersumber dari Statistik Pertanian Hortikultura  (SPH online BPS RI), prognosa produksi cabai besar pada bulan November 2021 sebesar 94.016 ton, kebutuhan 81.011 ton, terjadi surplus sebesar 13.005 ton. Sementara pada Desember 2021 sebesar 94.576 ton, kebutuhan 84.08 persegi ton, terjadi surplus 10.494 ton," terang Tommy.

Sementara untuk cabai rawit, prognosa November 2021 sebesar 99.629 ton, kebutuhan 77.740 ton, terjadi surplus sebesar 21.889 ton. "Pada Desember 2021 diprediksi sebesar 88.001 ton, kebutuhan 80.764 ton, sehingga diperkirakan terjadi surplus 7.237 ton," terangnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement