Jumat 24 Sep 2021 19:05 WIB

Hasilkan Laba Besar, Kementan Dorong Pertanaman Kapulaga

Tim Direktorat Jenderal Hortikultura konsisten menyelenggarakan bimtek ke petani

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong jajarannya untuk menghasilkan produksi hortikultura unggul dan berdaya saing, salah satunya komoditas kapulaga. Tanaman obat asli Indonesia ini dibudidayakan secara komersial maupun di pekarangan masyarakat.
Foto: istimewa
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong jajarannya untuk menghasilkan produksi hortikultura unggul dan berdaya saing, salah satunya komoditas kapulaga. Tanaman obat asli Indonesia ini dibudidayakan secara komersial maupun di pekarangan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong jajarannya untuk menghasilkan produksi hortikultura unggul dan berdaya saing, salah satunya komoditas kapulaga. Tanaman obat asli Indonesia ini dibudidayakan secara komersial maupun di pekarangan masyarakat.

Saat dimintai keterangannya, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyampaikan bahwa sebagai bentuk upaya meningkatkan daya saing produk hortikultura, tim Direktorat Jenderal Hortikultura secara konsisten menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) untuk meningkatkan kompetensi petugas dan petani di lapangan dan kali ini dengan topik tanaman obat.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha mengungkapkan bahwa kapulaga memiliki prospek yang luar biasa. Terlebih pada kondisi pandemi seperti ini, kapulaga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat peningkat imun.

“Kapulaga menurut saya adalah tanaman yang diam-diam menghanyutkan. Jarang sekali terdengar pemberitaannya di televisi maupun informasi di lapangan. Namun, kapulaga ini prospeknya luar biasa. Apalagi saat pandemi ini kapulaga bermanfaat sebagai tanaman obat untuk meningkatkan imun,” ujar Tommy.

Tommy menambahkan, ekspor kapulaga dalam kurun 2018 hingga 2020 mengalami peningkatan luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki prospek yang luar biasa baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.  Belakangan ini banyak sekali pelaku usaha memakai kapulaga sebagai bahan baku industri.

Beberapa negara tujuan ekspor antara lain Singapura, Malaysia, Taiwan dan Jepang. Pasar luar negeri masih terbuka lebar karena tidak banyak negara yang memproduksi kapulaga.

“Dengan demikian diharapkan kapulaga lebih banyak diminati masyarakat. Pemerintah, petani dan pelaku usaha bisa saling berdiskusi sekaligus memberikan ide dan gagasan agar pengembangannya lebih besar lagi,” tambah Tommy.

Peneliti Ahli Madya di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Chevy Syukur mengatakan bahwa dalam suatu kegiatan berbudidaya ada 3 tiga faktor yang harus diperhatikan, yakni benih, pelaksanaan teknis budidaya dan proses pascapanen. Ketiga faktor inilah yang akan menentukan hasil akhir produk yang dibudidayakan.

Untuk budidaya kapulaga, Chevy mengatakan sangatlah dianjurkan untuk melakukan penyiapan lahan dengan cara yang dapat memperbaiki dan memelihara struktur tanah serta dapat menekan laju erosi.

“Tanaman kapulaga ini sangat tidak menginginkan genangan air di permukaan yang menyebabkan pembusukkan bunga-bunga yang akan tumbuh di permukaan sekitar tanaman,” terang Chevy.

Chevy menambahkan, di sekitar tanaman kapulaga diperlukan adanya tanaman naungan seperti pisang, albasia, mahoni, manggis, karet dan lain-lain sebanyak 30 persen. Kemudian, salah satu syarat tumbuh tanaman kapulaga adalah lahan memiliki ketinggian 300-800 m dpl dengan suhu 20-30 derajat Celcius.

Panen buah kapulaga yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur tujuh bulan. Panen kapulaga dapat dilakukan secara rutin dan berkala sampai tanaman tidak produktif lagi, yaitu pada umur 5 hingga 6 tahun.

Keuntungan budidaya kapulaga telah dirasakan oleh Direktur PT Kapolaga Berkah Pangandaran, Kunkun Herwanto. Kunkun menuturkan pengembangan kapulaga di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat ini tidak terganggu dengan kondisi pandemi. Bahkan, harga kapulaga sempat tembus angka Rp 340.000 per kilogram.

“Alasan memilih tanaman kapulaga sebagai komoditas yang dikembangan karena memang biaya produksinya sangat rendah. Untuk modal awal bertanam  untuk luasan 1 hektare dibutuhkan Rp 38 juta. Panen basah 10 ribu kg dikalikan harga Rp 10 ribu per kg menghasilkan Rp 100 juta sehingga apabila dikurangi modal maka perolehan laba senilai Rp 61 juta. Sementara untuk panen kering menghasilkan 2500 kg apabila dihargai Rp 90 ribu per kg bisa mencapai keuntungan kotor Rp 225 juta. Apabila dikurangi modal maka keuntungan normal bisa mencapai Rp 185 juta,” terangnya.

Selain bernilai ekonomi tinggi, tanaman  ini tidak mengganggu tanaman lain karena kapulaga ini bukan tanaman monokultur sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman tumpang sari. “Selain itu, kapulaga juga tidak sekali panen. Panen kapulaga bisa beberapa kali sehingga keuntungannya jangka panjang,” kata Kunkun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement