Selasa 13 Oct 2020 17:59 WIB

BI Tahan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah

BI memandang tingkat suku bunga acuan masih sejalan dalam mendorong pemulihan.

Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9). Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (13/10) sore ditutup melemah seiring ditahannya suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.
Foto: Antara/Reno Esnir
Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9). Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (13/10) sore ditutup melemah seiring ditahannya suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (13/10) sore ditutup melemah seiring ditahannya suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,17 persen menjadi Rp 14.725 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.700 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa, mengatakan, pasar memantau demontrasi UU Cipta Kerja di mana pihak keamanan terus bersiaga dan mengawal demonstrasi agar tidak ada penyusup yang memanfaatkan situasi tersebut tersebut, sehingga demonstrasi berjalan lancar dan tidak terjadi anarkisme.

Baca Juga

"Keamanan yang ketat menambah kepercayaan pasar sehingga apa yang ditakutkan oleh pasar akan terjadi huru hara menjadi sirna," ujar Ibrahim.

Disamping itu, lanjutnya, RUU Cipta Kerja yang sudah disetujui DPR untuk disahkan menjadi UU diharapkan akan membawa berkah bagi perkembangan ekonomi di masa mendatang. Sentimen dari domestik lainnya yaitu Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 12-13 Oktober 2020 yang memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4 persen untuk keempat kalinya secara berturut-turut.

 

BI memandang tingkat suku bunga acuan tersebut masih sejalan dalam mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia terus membaik dipengaruhi stimulus fiskal negara maju antara lain Amerika Serikat.

Perbaikan ekonomi global juga didukung oleh pemulihan ekonomi China sebagai dampak stimulus fiskal dan berkurangnya Covid-19.

Dari eksternal, investor berharap pada harapan langkah-langkah stimulus AS yang besar untuk menopang ekonomi yang dilanda Covid-19 setelah pemilihan presiden 3 November 2020 mendatang. Tetapi investor lain skeptis bahwa Partai Republik dan Demokrat akan mencapai konsensus dan meloloskan langkah-langkah sebelum pemilihan.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp 14.695 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.695 per dolar AS hingga Rp 14.747 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp 14.793 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.746 per dolar AS.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement