REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah 47 poin atau 0,28 persen menuju level Rp 16.884 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (18/2/2026). Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, pelemahan Mata Uang Garuda terjadi seiring dengan kondisi melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“(Sentimen internal), kondisi defisit APBN tengah mendapatkan sorotan dari publik. Bila Pemerintah tidak cermat dalam melakukan pengelolaan keuangan negara maka ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural. Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Ia menuturkan, ketika sektor swasta masih berhati-hati, Pemerintah akhirnya menjadi penopang utama permintaan agregat. Di situlah, risiko muncul yaitu APBN berperan sebagai shock absorber terus-menerus, sementara basis penerimaan belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan biaya bunga.
Pada akhir tahun 2025, defisit melebar menjadi Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut jauh lebih besar dari target awal defisit yang senilai Rp 616,2 triliun atau 2,53 persen dari PDB. Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur defisit APBN dibatasi paling tinggi 3 persen dari PDB.
“Meski masih berada di bawah ambang batas 3 persen, tetap secara ekonomi ruang fiskal sudah menipis. Bila dikaji lebih dalam, persoalannya bukan sekadar angka rasio, melainkan kemampuan APBN menyerap guncangan dan melakukan stabilisasi,” jelasnya.
Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, ia menyebut, setiap terjadi guncangan eksternal kenaikan imbal hasil (yield) global, pelemahan rupiah, dan arus modal keluar akan langsung menekan kas negara melalui beban bunga dan kebutuhan pembiayaan baru. Artinya, secara headline (defisit) terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu.