Senin 31 Aug 2020 17:43 WIB

Pertamina Ingin Hapus Premium dan Pertalite

Premium dan Pertalite memiliki porsi konsumsi yang paling besar di dalam negeri.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Pengendara motor mengisi kendaraannya dengan BBM jenis Pertalite di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Senin (26/3). PT Pertamina (Persero) berencana menghapus Pertalite.
Foto: Sigid Kurniawan/Antara
Pengendara motor mengisi kendaraannya dengan BBM jenis Pertalite di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Senin (26/3). PT Pertamina (Persero) berencana menghapus Pertalite.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) terus menggodok rencana penghapusan bahan bakar minyak (BBM) kalori rendah karena tak baik bagi masa depan lingkungan. Namun untuk bisa merealisasikan hal ini masih terganjal paradigma masyarakat yang belum bisa beralih ke BBM ramah lingkungan.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan, masih ada dua jenis BBM yang RON-nya masih di bawah 91. Ia menyebutkan yakni Premium dengan RON 88 dan Pertalite dengan RON 90.

Baca Juga

"Artinya ada dua produk yang kemudian tidak boleh lagi dijual di pasar kalau mengikuti aturan tersebut yaitu Premium dan Pertalite," kata Nicke di Komisi VII DPR RI, Senin (31/8).

Ia memerinci hingga kini kedua jenis BBM ini memiliki porsi konsumsi yang paling besar. Misalnya saja di data 22 Agustus 2020, penjualan Premium mencapai 24 ribu kilo liter (KL) dan Pertalite sebesar 51,5 ribu KL. Sedangkan untuk penjualan BBM dengan RON di atas 91 yakni Pertamax dengan RON 92 sebesar 10 ribu KL dan Pertamax Turbo dengan RON 98 sebesar 700 KL.

"Oleh karena itu kita perlu mendorong bagaimana konsumen yang mampu beralih ke BBM ramah lingkungan," tutur Nicke.

Di sisi lain, dia mengatakan jenis BBM yang dijual di Indonesia lebih banyak dari negara lain. Di Indonesia untuk gasoline saja ada enam jenis dan di negara lain hanya 2-3 jenis.

Lebih lanjut Nicke mengatakan ada tujuh negara di dunia termasuk Indonesia yang masih menggunakan BBM dengan RON di bawah  90 di antaranya Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan.

"Jadi itu alasan kenapa kita perlu mereview kembali varian BBM ini," jelas Nicke.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement