Ahad 26 Apr 2020 14:52 WIB

Buyback Saham tidak Efektif Dorong Kenaikan IHSG

Pola pemulihan IHSG saat ini tidak akan jauh berbeda dari krisis 2008 lalu.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Layar menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, ilustrasi. Aksi buyback saham dinilai tidak efektif dorong kenaikan IHSG.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Layar menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, ilustrasi. Aksi buyback saham dinilai tidak efektif dorong kenaikan IHSG.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langkah pembelian kembali (buyback) saham dinilai tidak cukup efektif untuk menaikkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk yang dilakukan oleh emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Buyback saham disebut hanya mampu menjaga stabilitas harga.

"Langkah ini bukan kebijakan untuk mengangkat harga, sehingga buyback tidak bisa mendorong harga saham naik," kata Analis pasar modal dari Koneksi Kapital Indonesia, Alfred Nainggolan dalam acara diskusi virtual bertajuk Mendulang Profit dari Saham-saham BUMN, di Jakarta, Ahad (26/4).

Baca Juga

Alfred melihat, pola pemulihan indeks harga saham saat ini tidak akan jauh berbeda dari krisis 2008 lalu. Pada saat itu, menurut Alfred, indeks saham bisa naik lantaran ada sentimen buyback yang memancing investor untuk membeli saham. Namun, sentimen tersebut lebih berasal dari pasar secara umum, bukan dari sektor tertentu.

Alfred mengungkapkan pada 2008 realisasi buyback saham dari emiten BUMN hanya di bawah lima persen atau masih lebih kecil dibandingkan anggaran buyback. Seperti emiten lainnya, emiten BUMN cenderung wait and see dalam merealisasikan buyback saham.

 

"Mereka (emiten) tidak akan serta merta menghabiskan periode di awal ini untuk melakukan pembelian, saya lihat juga sekarang realisasinya masih kecil," tutur Alfred.

Menurut Alfred, buyback saham baru bisa efektif menaikkan harga apabila diikuti oleh pasar. Artinya, ketika perusahaan melakukan buyback, investor lainnya baik institusi maupun individu juga melakukan pembelian saham. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement