Ahad 12 Apr 2020 18:00 WIB

Musim Tanam Mundur Sebabkan Panen Bawang Merah Berkurang

Mundurnya musim tanam hingga dua bulan karena petani menunggu kecukupan air.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Seorang pedagang menata bawang merah di Pasar Tradisional Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (11/4). Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menuturkan kegiatan panen bawang merah saat ini tengah berkurang. Hal itu dipicu oleh mundurnya masa tanam akhir tahun 2019 imbas musim kemarau panjang tahun lalu.
Foto: BASRI MARZUKI/ANTARA FOTO
Seorang pedagang menata bawang merah di Pasar Tradisional Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (11/4). Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menuturkan kegiatan panen bawang merah saat ini tengah berkurang. Hal itu dipicu oleh mundurnya masa tanam akhir tahun 2019 imbas musim kemarau panjang tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menuturkan kegiatan panen bawang merah saat ini tengah berkurang. Hal itu dipicu oleh mundurnya masa tanam akhir tahun 2019 imbas musim kemarau panjang tahun lalu.

Ketua ABMI, Juwari, menuturkan, dalam situasi normal, musim tanam akhir tahun dimulai setiap bulan Oktober sehingga musim panen jatuh pada Desember-Januari. Namun, akhir tahun lalu musim tanam mundur hingga bulan Desember 2019 sehingga panen baru terjadi bulan Februari-Maret 2020.

Baca Juga

Juwari menuturkan, mundurnya musim tanam hingga dua bulan lantaran petani menunggu kecukupan air saat musim hujan. "Nah, ketika kita akan tanam lagi di bulan Maret, sudah terlambat karena berganti tanaman padi. Jadi kemunduran ini berkaitan dengan persaingan tanam antar komoditas," kata Juwari kepada Republika.co.id, Ahad (12/4).

Juwari menjelaskan, produktivitas bawang merah pada musim penghujan cenderung rendah, hanya 9 ton per hektare. Berbeda dengan tingkat produktivitas di musim kemarau yang mencapai 12 ton per hektare.

Di tengah kemunduran musim tanam dan panen serta produktivitas yang rendah, permintaan masyarakat tengah tinggi akibat wabah Covid-19. Alhasil, petani tidak mampu menyuplai kebutuhan nasional yang sedang tinggi saat ini.

"Memang saat ini pun sudah tidak ada panen. Kalau pun ada sedikit sekali. Tahun ini tidak seperti biasanya, karena sudah ada kemunduran dari tahun lalu," ujarnya.

Ia menuturkan, produksi dalam negeri kemungkinan baru kembali normal pada bulan Juli mendatang. ABMI berharap pemerintah tidak membuka opsi impor karena secara keseluruhan, produksi bawang merah nasional sudah mencapai sekitar 1,6-1,8 juta ton atau sesuai kebutuhan.

Pihaknya pun meminta pemerintah untuk jeli melihat daerah sentra bawang merah yang saat ini masih memiliki potensi panen. Sebab, sejauh ini kebutuhan bawang merah banyak mengandalkan sentra di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement