Rabu 11 Mar 2020 05:11 WIB

Turunnya Harga Minyak Diharap Tingkatkan Penumpang Pesawat

'AP I juga bisa kecipratan jika trafik penumpang yang datang lebih banyak.'

Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi
Foto: Republika/Rahayu Subekti
Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I berharap turunnya harga minyak dunia dapat membuat harga tiket pesawat lebih terjangkau sehingga mampu meningkatkan trafik penumpang ke bandara-bandara. "Kalau tiketnya murah maka AP I juga bisa kecipratan jika trafik penumpang yang datang lebih banyak," ujar Direktur AP I Faik Fahmi di Jakarta, Selasa (10/3).

Dia mengatakan sebenarnya dampak langsung dirasakan oleh maskapai, karena dengan harga minyak dunia turun maka tentu saja harga avtur akan mengalami penurunan. "Dengan demikian biaya operasional maskapai bisa lebih murah, harapannya tiketnya juga lebih murah," katanya.

Baca Juga

Sebelumnya, harga minyak mentah mengalami penurunan harian terbesar sejak Perang Teluk 1991 pada akhir perdagangan Senin (Selasa 10/3/2020). Kala itu, produsen utama Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga yang mengancam akan membanjiri pasokan pasar minyak global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei merosot 10,91 dolar AS atau 24,1 persen, menjadi menetap di 34,36 dolar AS per barel. Kontrak turun sebanyak 31 persen pada awal sesi menjadi 31,02 dolar AS, tingkat terendah sejak 12 Februari 2016.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April jatuh 10,15 dolar AS atau 24,6 persen, menjadi ditutup di 31,13 dolar AS per barel. WTI sebelumnya anjlok 33 persen menjadi 27,34, juga yang terendah sejak 12 Februari 2016.

Kemerosotan hampir 25 persen dalam harga minyak memicu penjualan panik dan kerugian besar pada indeks saham utama Wall Street ketika penyebaran cepat virus corona memperkuat kekhawatiran akan resesi global.

Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan mereka akan meningkatkan produksi pada akhir pekan setelah pakta tiga tahun antara mereka dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan gagal disepakati pada Jumat (6/3/2020).

Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial yang disebabkan oleh dampak virus corona terhadap perjalanan dan kegiatan ekonomi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement