Ahad 08 Dec 2019 10:12 WIB

Tiga Sektor Usaha Pemicu Terbesar Kredit Macet Perbankan

Rasio kredit macet perbankan naik dari 2,37 persen menjadi 2,66 persen pada September

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Kredit macet (ilustrasi). Sektor usaha pengolahan, kontruksi dan perdagangan menjadi pemicu meningkatnya rasio kredit macet di perbankan.
Foto: Republika/Prayogi
Kredit macet (ilustrasi). Sektor usaha pengolahan, kontruksi dan perdagangan menjadi pemicu meningkatnya rasio kredit macet di perbankan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri perbankan akan dihadapkan oleh tiga sektor lini usaha yang menyebabkan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) membengkak. Ketiga sektor tersebut antara lain pengolahan, kontruksi dan perdagangan.

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence Sunarsip mengatakan ketiga sektor tersebut tercatat memiliki market share yang cukup besar terhadap penyaluran kredit perbankan.

Baca Juga

“NPL sekarang naik dari 2,37 persen pada Agustus sekarang sudah 2,66 persen pada September. Lalu sektor yang NPLnya tinggi berada pada sektor pengolahan yang NPLnya 3,65 persen, sektor perdagangan 3,88 persen serta terakhir kontruksi 3,55 persen,” ujarnya, Ahad (8/12).

Menurutnya share penyaluran kredit ketiga segmen tersebut terhadap keseluruhan kredit bank cukup tinggi. Semisal sektor pengolahan memiliki share 16,61 persen, sektor perdagangan memiliki share 18,14 persen dan sektor kontruksi sebesar 6,65 persen.

Pihaknya juga tak menyangkal bila kasus gagal bayar Duniatex Group cukup mempengaruhi angka kredit macet pada akhir tahun ini. Tercatat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat utang Duniatex secara grup mencapai Rp 22 triliun yang berasal dari kreditur bank maupun non bank.

Berdasarkan data OJK hingga Oktober 2019 Rasio NPL masih meningkat menjadi sebesar 2,73 persen yang sebelumnya 2,66 persen sedangkan untuk NPL net 1,21 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement