Kamis 21 Nov 2019 17:24 WIB

Konsumsi Dorong Ekonomi Tumbuh 5,1 Persen di Akhir Tahun

Bertambahnya warga berpendapatan menengah menjadi penopang daya konsumsi.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda
Bank Indonesia mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di posisi 5,00 persen, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, (21/11).
Foto: Republika/Iit Septyaningsih
Bank Indonesia mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di posisi 5,00 persen, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, (21/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memprediksi, pertumbuhan ekonomi nasional sampai akhir tahun mencapai 5,1 persen. Konsumsi rumah tangga diyakini tetap menjadi penopang atau sumber utama pertumbuhan tersebut. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keyakinan itu. "Pertama, konsumsi dari kelompor Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR) ini cukup baik, berkat ada penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah," ujar Perry kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (21/11). 

BI mendukung penyaluran itu melalui elektronifikasi bansos yang menyasar 14,6 juta keluarga. "Dengan inflasi rendah di sekitar tiga persen, lanjutnya, penyaluran bansos menopang pertumbuhan konsumsi segmen MBR," jelasnya. 

Alasan kedua, lanjut Perry, jumlah masyarakat berpendapatan menengah atau middle income terus bertambah. Saat ini porsi penduduk middle income sekitar 61,5 persen, sebelumnya hanya 23 persen pada 2000.

Perlu diketahui, middle income berarti memiliki pendapatan berkisar 2,97 dolar AS sampai 8,44 dolar AS per hari. "Jadi semakin besarnya middle income ini juga topang daya konsumsi masyarakat. Konsumsi mereka cukup besar, terlihat dari penjualan ritel yang non-durable," jelas Perry.

Ketiga, tutur dia, terjaganya inflasi di level rendah. Tidak hanya inflasi total tapi juga inflasi kelompok volatile food yang bida ditekan di bawah lima persen. 

"Terima kasih kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang serius kendalikan inflasi secara keseluruhan dan pangan. Ini jadi daya dukung konsumsi," kata dia. 

Bagi Perry, kuatnya konsumsi rumah tangga Tanah Air menjadi penjelasan kenapa pertumbuhan Indonesia tetap berdaya tahan, disaat hampir semua negara lain melambat. "Karena 50 persen pertumbuhan ekonomi kita ditopang konsumsi rumah tangga," tegasnya. 

Selain konsumsi, ujar dia, kinerja investasi yang tetap baik terkait proyek strategis nasional di Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Termasuk kinerja ekspor di beberapa daerah yang membaik, seperti ekspor manufaktur otomotif dari Jawa, dan besi baja dari Sulawesi. 

Sebagai informasi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2019 tercatat 5,02 persen year on year (yoy). Sedikit melambat dari capaian pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya sebesar 5,05 persen yoy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement