Jumat 18 Oct 2019 01:03 WIB

Penyaluran KUR Mode Dibutuhkan Perintis Usaha

Penyaluran KUR diharapkan menumbuhkan usaha mode muslim.

Rep: Novita Intan/ Red: Indira Rezkisari
Pengunjung memilih busana muslim pada acara Hijrah Fest Ramadhan di JCC Senayan, Jakarta, Ahad (26/5).
Foto: Republika/Prayogi
Pengunjung memilih busana muslim pada acara Hijrah Fest Ramadhan di JCC Senayan, Jakarta, Ahad (26/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 140 triliun pada tahun ini. Penyaluran tersebut sudah terealisasi sebesar Rp 102 triliun hingga September.

Realisasi penyaluran KUR bidang busana dan produk turunannya, pada periode Januari 2019 sampai dengan September 2019, penyaluran KUR sebesar Rp 1,13 triliun kepada 45.100 debitur. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebut selama ini pembiayaan KUR lebih banyak memang dibutuhkan oleh home industri atau usaha individu yang belum berbasis pada produk mode dalam kategori masih rintisan awal.

Baca Juga

"Saat ini pelaku usaha ekonomi kreatif khususnya bidang mode muslim mulai menunjukkan usahanya secara berkelanjutan dan lebih mapan," ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik ketika dihubungi Republika, Kamis (17/10).

Ke depan, Bekraf secara aktif telah bekerja sama dengan perbankan pemerintah untuk melihat sektor mode sebagai alternatif penyaluran KUR. Semisal, program-program Kelas Keuangan dan Bekraf Financial Club.

Sementara Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menambahkan saat ini penyaluran KUR sudah terakses pengusaha mode muslim secara KUR Mikro maupun KUR Retail. "Skema KUR Syariah juga sudah ada melalui Perbankan Syariah misal BRI Syariah," ucapnya.

Bekraf juga telah menerbitkan buku panduan kelayakan usaha mode muslim. Diharapkan penerbitan buku ini akan menumbuhkan kewirausahaan terutama subsektor modest fashion.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement