Selasa 17 Sep 2019 02:26 WIB

Pasar Saham dan Obligasi Indonesia Masih Menarik

Pasar saham masih memberikan peluang investasi yang menarik.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Obligasi.
Foto: seputarforex.com
Obligasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai pasar saham dan obligasi Indonesia masih menarik meski saat ini berbagai tekanan global masih mengancam. Hal tersebut lantaran Indonesia menawarkan suku bunga ril yang masih tinggi.

"Di tengah kondisi suku bunga rendah saat ini, maka investor mencari negara mana yang fundamental masih baik dan memberikan potensi hasil investasi yang menarik," kata Chief Economist & Investment Strategist MAMI, Katarina Setiawan dalam pemaparan Market Update edisi September 2019, Senin (16/9).

Baca Juga

Menurut Katarina, pasar saham masih memberikan peluang investasi yang menarik. Valuasi serta laba korporasi diperkirakan tumbuh sekitar 9 persen pada tahun ini.

Katarina melihat, kedepannya katalis pasar saham Indonesia akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh BI, percepatan reformasi kebijakan, perbaikan data aktivitas ekonomi, hingga pemotongan pajak korporasi.

 

Sementara untuk pasar obligasi, di tengah kondisi suku bunga rendah seperti saat ini, obligasi Indonesia sangat menarik karena masih memberikan real yield yang tinggi. Komitmen BI untuk menjaga nilai tukar rupiah dan juga pasar obligasi Indonesia memberikan sentimen yang positif bagi obligasi Indonesia.

Secara global, MAMI memperkirakan, akan ada tren penurunan suku bunga di berbagai bank sentral negara-negara di dunia. Tren tersebut merupakan dampak dari The Fed yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga pada tahun ini dan juga di 2020.

Selain dari sisi kebijakan moneter, pemerintah berbagai negara mempersiapkan stimulus fiskal untuk menopang ekonominya. Indonesia sendiri masih memiliki banyak ruangan untuk melanjutkan penurunan suku bunganya ke depannya.

"Nilai tukar rupiah juga terjaga. Bahkan kinerjanya lebih baik dibandingkan mata uang lainnya di negara tetangga," kata Katarina.

Katarina juga melihat bahwa persepsi risiko Indonesia terus membaik, terlihat dari penurunan credit default swap. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya proses pertumbuhan ekonomi yang relatif baik; dinamika kebijakan yang kuat; utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara lain; serta kondisi fiskal yang terkelola dengan baik.

Jadi di tengah volatilitas yang meningkat di global, persepsi risiko Indonesia masih terjaga. Dibuktikan juga dengan peningkatan sovereign rating yang dilakukan S&P terhadap Indonesia.         

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement