Sabtu 17 Aug 2019 07:06 WIB

Taipan Hong Kong Berduka, Miliarder Saudi Bersuka: Makin Kaya Raya

Para miliarder di Hong Kong berduka akibat merasakan dampak buruk demo massa.

Rep: Clara Aprilia Sukandar(Warta Ekonomi)/ Red: Clara Aprilia Sukandar(Warta Ekonomi)
Taipan Hong Kong Berduka, Miliarder Saudi Bersuka: Makin Kaya Raya. (FOTO: ndtv.com)
Taipan Hong Kong Berduka, Miliarder Saudi Bersuka: Makin Kaya Raya. (FOTO: ndtv.com)

Para miliarder di Hong Kong tengah berduka akibat merasakan dampak buruk dari protes massif yang terjadi di negaranya. Hartanya merosot tajam. Situasi tersebut berbanding terbalik dengan para miliarder di Timur Tengah terutama Arab Saudi dan Kuwait. Kekayaannya melonjak di balik ancaman ekonomi dunia yang melambat.

Sengitnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China justru tak berpengaruh terhadap kekayaan miliarder Arab Saudi. Hartanya bertambah, tak goyang dan turun sama sekali.

Baca Juga: Hong Kong Masih Kisruh, Miliarder Peter Woo 'Jatuh Miskin'

Melansir dari Business Insider, laporan World Wealth Report 2019 oleh Capgemini menyebut kekayan para orang kaya di dunia menurun pada 2018. Kejadian itu adalah yang pertama dalam tujuh tahun terakhir, namun kekayaan Arab Saudi dan Kuwait berada dalam performa terbaik hingga saat ini.

Reformasi ekonomi dan naiknya harga minyak menjadi berkah bagi para orang kaya di Timur Tengah. Pertumbuhan ini juga tidak terlepas dari kebijakan Pangeran Mohammed bin Salman.

Sang pangeran memiliki rencana bernama Vision 2030 yang bertujuan agar ekonomi Arab Saudi makin terdiversifikasi, sekaligus menambah tenaga kerja, tanggung jawab sosial, dan membangun kota futuristik dengan proyek senilai 500 miliar dolar AS.

Baca Juga: Jarang Beramal, Kini Jeff Bezos Sumbangkan Rp1,4 Triliun, Hasil Jual Saham?

"Kebijakan-kebijakan tersebut telah mulai membantu ekonomi secara keseluruhan, yang menambah para individual dengan kekayaan tinggi semakin bertumbuh. Ada kultur bisnis dinamis di sana," ujar Deputy Head of the Global Financial Services Market Intelligence Strategic Analysis Group, Chirag Thakral, mengutip dari Capgemini.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement