Senin 12 Aug 2019 12:38 WIB

Pengeboran Tutup Sumur ONWJ Capai Kedalaman 4.000 Kaki

Targetnya, pengeboran mencapai 9.000 kaki.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Friska Yolanda
Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).
Foto: Antara/M Ibnu Chazar
Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- VP Relations Pertamina Hulu Energi, Ifki Sukarya mengatakan pengeboran Relief Well yang dilakukan Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) pada Ahad (11/8), telah mencapai kedalaman 1.464 meter atau lebih dari 4.000 kaki. Targetnya, pengeboran mencapai 2.765 meter atau sekitar 9.000 kaki.

Ifki menyebut, pengeboran sumur relief well YYA-1 RW merupakan upaya pengendalian dan mematikan sumur YYA-1 yang dilakukan PHE ONWJ. Ifki menyampaikan proses pengeboran mulai dilakukan pada 1 Agustus 2019 dengan menggunakan rig Soehanah yang berdiri sekitar 1 kilometer dari anjungan YY, tempat sumur YYA-1 berada.

Baca Juga

"Rencananya, sumur relief well ini akan menembus sampai kedalaman sekitar 2.765 meter. Dengan pengeboran relief well ini, diharapkan dapat menutup sumur YYA-1 sehingga dapat menghentikan tumpahan minyak," ujar Ifki di Jakarta, Ahad (11/8).

Ifki menambahkan, PHE ONWJ menggelar oil boom sepanjang 8.605 meter untuk menghalau tumpahan minyak di perairan dan di pesisir pantai. Selain itu, PHE ONWJ juga mengerahkan 3.116 personel di darat dan laut, serta mengerahkan 46 unit kapal.

Kata Ifki, oil boom yang digelar tersebar di sejumlah titik. Di perairan, PHE ONWJ menggelar 4.200 meter static oil boom di lapis pertama dan 400 meter di lapis kedua. Selain itu, PHE ONWJ juga menempatkan 400 meter moveable oil boom, dan ditambah bantuan 700 meter oil boom di FSRU Nusantara Regas.

"Untuk di pesisir, PHE ONWJ menggelar 2.905 meter oil boom yang tersebar di 6 lokasi, yaitu Cemara Jaya, Sedari, Tambak Sari, Tanjung Pakis, Pantai Bakti, dan Sungai Buntu," ucap Ifki. 

PHE ONWJ didukung 3.116 personel yang terbagi dua kelompok yaitu 932 personel bertugas di perairan dan 2.184 bertugas di daratan. Dukungan personel ini terdiri dari elemen Oil Spill Combat Team (OSCT), TNI Polri, dan elemen masyarakat sekitar.

"Operasi pembersihan tumpahan minyak di perairan didukung dengan 46 unit kapal, 7 unit kapal di antaranya bertugas untuk oil combat. Selebihnya bertugas untuk pengejaran dan pengepungan minyak yang tercecer, pengangkut tumpahan minyak, patroli, dan siaga back up pemadam kebakaran," kata Ifki. 

Ifki melanjutkan, PHE ONWJ juga menempatkan lima posko medis di Cemara Jaya, Sungai Buntu, Sedari, Tambak Sari, Muara Beting. Posko tersebut didukung lima dokter, 35 tenaga medis, dan diperkuat dengan lima unit ambulans yang dilengkapi dengan peralatan medis dan obat-obatan.

"Ambulans tersebut siaga di Cemara Jaya, Sungai Buntu, Sedari, Tambak Sari, dan Muara Beting," ucap Ifki. 

Sedangkan di Kepulauan Seribu, PHE ONWJ menempatkan 1 tim medis yang terdiri atas 1 dokter dibantu 2 tenaga medis dan perahu ambulans bekerja sama dengan puskesmas Pulau Tidung dan Pulau Lancang. Posko kesehatan PHE ONWJ tersebut telah melakukan pengawasan kesehatan, pemeriksaan, dan pengobatan untuk sekitar 500 orang warga masyarakat.

Mengenai kompensasi bagi warga terdampak tumpahan minyak, kata Ifki, Pemerintah Kabupaten Karawang telah membentuk tim kompensasi yang terdiri atas Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak. Tim tersebut akan melakukan beberapa hal seperti merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi.

"Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yag didirikan di setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi dan verifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian," lanjut Ifki. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement