Kamis 06 Dec 2018 08:19 WIB

Bank Indonesia Ajak REI Bertukar Data

Sektor properti memiliki multiplier effect yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi

 Pengunjung melihat maket perumahan dalam pameran properti Real Estate Indonesia (REI) beberapa waktu lalu. Bank Indonesia akan melakukan pertukaran data dengan REI.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pengunjung melihat maket perumahan dalam pameran properti Real Estate Indonesia (REI) beberapa waktu lalu. Bank Indonesia akan melakukan pertukaran data dengan REI.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Bank Indonesia (BI) mengajak Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) untuk bertukar data. Pertukaran data ini dalam rangka memberikan gambaran mengenai stabilitas ekonomi makro untuk dipergunakan dalam mengeluarkan kebijakan moneter.

Asisten Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta mengatakan, sektor properti memiliki multiplier effect yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi makro. "Di dalamnya terdapat 170 industri dan subindustri pendukung. Kalau sampai sektor ini mengalami penurunan tentunya juga berdampak turunnya ekonomi," ujarnya di acara Rakernas REI di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12).

Filianingsih mengatakan, kerja sama pertukaran data ini sebagai implementasi penandatanganan MOU kerja sama kedua institusi, untuk dilanjutkan melalui pengembangan sumber daya manusia dan kerja sama lainnya. "Data properti ini sangat penting, bagaimana kami bisa membuat kebijakan yang akurat kalau tidak ada data. Kebijakan ini nantinya juga sangat penting untuk mendukung usaha dan bisnis dari pengembang properti," jelas dia.

Lebih lanjut Filianingsih menuturkan, selain melakukan pertemuan antara pengurus REI dengan dewan gubernur BI yang selama ini telah berjalan, juga direncanakan untuk mengoptimalkan peran REI di daerah dengan melibatkan kantor wilayah Bank Indonesia. "Saya harap bapak dan ibu juga dapat saling berbagi data dengan kantor wilayah BI untuk memberikan gambaran yang lebih spartial per daerah," ujar dia.

Filianingsih juga berkeinginan agar data survei properti ini dapat berasal dari seluruh kota dan provinsi, dengan demikian ekonomi bisa terhindar dari kerentanan. Melalui data yang sementara ini terdapat di 16 kota/ provinsi juga akan memudahkan dalam mengeluarkan kebijakan loan to value (LTV) apakah harus diperlonggar atau justru diperketat, jelas dia.

Filianingsih melihat kinerja properti 2018 cukup baik meskipun terdapat resiko dinamika global, untuk di 2019 diperkirakan masih membaik dengan prediksi pertumbuhan 5 sampai 5,4 persen, serta yang lebih menggembirakan lagi NPL di sektor properti mengalami penurunan di 2018.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement