Rabu 19 Jul 2017 14:35 WIB

Pembangunan Infrastruktur Dinilai tidak Turunkan Kemiskinan

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Nur Aini
Pembangunan infrastruktur, ilustrasi
Pembangunan infrastruktur, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) Yusuf Wibisono menilai, saat ini pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah Jokowi -JK belum berdampak terhadap pengentasan kemiskinan. Menurut dia, pembangunan infrastruktur dicirikan oleh eksternalitas positif yang tinggi, yaitu memperbaiki produktivitas modal dan SDM, serta menarik investasi baru.

''Saat ini, pembangunan infrastruktur terlihat tidak berkorelasi dengan penanggulangan kemiskinan,'' kata Yusuf, saat dihubungi, Rabu (19/7).

Ada beberapa penjelasan yang dinilainya pembangunan infrastruktur belum berdampak terhadap angka kemiskinan. Pertama, kata dia, infrastruktur yang dibangun adalah proyek besar (mercusuar) yang bersifat jangka panjang. Sehingga hasilnya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek, seperti proyek MRT dan LRT di Jakarta.

''Kedua, pembangunan infrastruktur minim penyerapan tenaga kerja, tidak bersifat padat karya, yaitu lebih didominasi oleh proyek padat modal,'' ujarnya.

Ketiga, Yusuf menjelaskan, pembangunan infrastruktur bersifat urban-biased, atau lebih banyak ditujukan untuk kawasan perkotaan. Akibatnya hanya berdampak kecil pada kawasan perdesaan, dimana orang miskin lebih banyak berada. Maka, korelasi infrastruktur dengan kemiskinan akan banyak ditentukan oleh kelompok mana yang paling diuntungkan dari pembangunan infrastruktur. Di era orde baru, rasio gini pedesaan menurun tajam dari 0,35 di pertengahan 70-an menjadi 0,25 di awal 90-an.

''Karena pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur pertanian dan peedesaan, seperti waduk, sistem irigasi, serta jalan dan listrik desa,'' ucap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement