Senin 15 Aug 2016 06:19 WIB

Bursa Berjangka Siap Tampung Dana Tax Amnesty

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Bursa Berjangka Jakarta
Bursa Berjangka Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) telah menyiapkan strategi guna menampung dana repatriasi dari kebijakan amnesti pajak (tax amnesty). Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 123 tahun 2016, kontrak berjangka komoditi masuk sebagai salah satu instrumen investasi dalam kebijakan amnesti pajak.

Direktur Utama JFX, Stephanus Paulus Lumintang menyatakan, pihak nya sedang menyiapkan produk yang menarik untuk menarik investor. "Akan ada kontrak yang lebih spesifik dan dikenal di pasar internasional untuk mengakomodasi dana repatriasi,” ujar  Stephanus pada pelatihan perdagangan berjangka komoditi di Yogyakarta, akhir pekan kemarin.

Ia mengungkapkan, salah satu produk baru yang sedang disiapkan itu berjenis emas dan dengan benchmark dari Australia. Saat ini, kata Paulus, produk tersebut telah 80 persen siap.

Selain menyiapkan produk baru, pihaknya juga mulai melakukan sosialisasi guna menarik para pemilik modal. "Dari kebijakan tax amnesty, kami menargetkan akan ada Rp 5 trilun dana investasi yang masuk ke pasar berjangka komoditi," kata Paulus.

Saat ini perdagangan di bursa berjangka masih belum sebesar bursa efek. Kendati begitu, menurutnya, beberapa indikator positif yang didorong dunia usaha sudah semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bursa berjangka.

Sehingga diyakini pada tahun-tahun mendatang perdagangan bursa komoditi akan terus membaik. "Hal ini sejalan dengan makin tingginya tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya lindung nilai dan investasi," imbuhnya.

Tercatat pada Semester I 2016, JFX yang merupakan bursa yang mengakomodasi perdagangan komoditas berjangka seperti emas, kakao, olein, kopi robusta dan arabika pada semester pertama tahun ini membukukan kenaikan transaksi sebesar 30 persen. 

"Target full year untuk transaksi komoditi  kami sudah menetapkan 1,5 juta lot," katanya. 

Kendati secara keseluruhan, JFX memiliki kekurangan sebesar 20 persen dari target yang ditetapkan selama 7 bulan, JFX optimistis mampu mencapai target 1,5 juta lot atau bertumbuh sekitar 250 persen dari tahun sebelumnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement