Jumat 24 Jun 2016 15:23 WIB

Mentan Klaim Harga Pangan Turun Jelang Lebaran

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini
harga sembako/bahan pangan yang mengalami kenaikan harga(illustrasi)
Foto: Republika-Aditya Pradana Putra
harga sembako/bahan pangan yang mengalami kenaikan harga(illustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengklaim harga sejumlah komoditas pangan telah menurun menjelang Lebaran. Usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Amran menyampaikan penurunan harga pangan terjadi di berbagai daerah.

"Pangan itu bukan daging saja. Harga beras turun, harga cabai anjlok jadi Rp 37 ribu per kilogram di Pandeglang. Harga bawang juga jadi Rp 8.000 per kilogram di Enrekang. Minyak secara nasional turun 5,5 persen. Barang lain turun karena kami operasi besar-besaran," jelas Amran di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (24/6).

Ia mengatakan, penurunan harga sejumlah komoditas pangan ini terjadi setelah pemerintah berupaya memotong rantai distribusi pangan. Sementara itu, Amran juga menyebut harga daging sudah mulai menurun meskipun belum mencapai target. "Ada Rp 105 (ribu), kemudian ada juga di bawah Rp 100 (ribu). Tapi, tidak menyeluruh," kata dia.

Menurut Amran, pemerintah pun membentuk tim khusus yang terdiri dari lima kementerian agar dapat menekan harga daging. Selain itu, pemerintah menyediakan pasokan daging murah sebanyak 9.000 ton atau setara dengan 50 ribu ekor sapi.

"Itu harganya di bawah Rp 80 (ribu), ada Rp 75 (ribu) ada Rp 78 (ribu). Memang butuh waktu, tidak bisa sekaligus, tapi secara umum harga mulai turun. Dan, stop, dalam negeri saja cukup," kata Amran.

Kendati demikian, ia juga belum dapat memastikan apakah harga daging saat Lebaran nanti akan semakin menurun atau tidak. Sementara itu, untuk pasokan daging ayam, pemerintah juga telah menyetok pasokan hingga dua kali lipat.

Amran mengatakan, dalam pertemuannya dengan Wapres JK, dibahas terkait perkembangan pangan. Kepada JK, ia pun menyampaikan fenomena La Nina memberikan dampak positif bagi perkembangan pangan. Karena itu, pemerintah pun mengubah strategi penanaman.

"Kami sampaikan bahwa kami bersyukur ada La Nina. Datangnya mulai terasa, Juli, Agustus, September yang aslinya bulan kering. Kami ubah strategi penanaman, jadi percepatan tanam karena hujan bersambung," ujarnya.

Menurutnya luas tanam ditambah. Hal itu membuat paceklik tak datang pada Desember-Februari. "Biasanya paceklik Desember-Februari. Karena luas tanam di Juli-September itu biasanya rendah dan sekarang tinggi, maka paceklik itu jadi nggak datang. Kalau La Nina datangnya Oktober, itu jadi musibah," kata Amran. Dengan kondisi ini, Amran tak menutup kemungkinan target hasil panen dapat bertambah.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan fenomena La Nina memberikan dampak yang positif bagi perkembangan pangan. Karena itu, kondisi saat ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik.

"Beras ini diperkuat menjelang bulan depan ini karena La Nina cukup baik memberikan hujan, ini dimanfaatkan kesempatan cukup baik ini," kata JK. Sedangkan terkait pasokan daging, JK berharap pemerintah memiliki perencanaan jangka panjang sehingga dapat mengantisipasi kurangnya pasokan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement