Selasa 10 May 2016 12:47 WIB

Kemenkop: Dari 25 Bank, 15 Telah Bangun Sistem Online Penyalur KUR

 Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga (kedua kiri) serta Agus Nursanto Pimpinan Wilayah BRI (kiri) menyaksikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah dilaksanakan di Kantor Cabang Bank BRI Pasar Minggu, Jakarta, Selasa
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga (kedua kiri) serta Agus Nursanto Pimpinan Wilayah BRI (kiri) menyaksikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah dilaksanakan di Kantor Cabang Bank BRI Pasar Minggu, Jakarta, Selasa

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta -- Sampai saat ini, sebanyak 35 bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) telah direkomendasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi penyalur KUR.

"Mereka akan mengikuti beberapa tahapan untuk menjadi penyalur KUR. Diantaranya, mendapat rekomendasi OJK, membangun SIKP dengan Kemenkeu, membangun sistem informasi dengan perusahaan penjamin, dan perjanjian kerjasama pembiayaan dengan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM", kata Deputi Pembiayaan Kemenkop dan UKM Braman Setyo‎, pada acara penandatanganan perjanjian kerjasama pembiayaan antara Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dengan bank penyalur KUR, di Jakarta, Selasa (10/5).

Menurut Braman, dari 35 bank dan LKBB tersebut, sebanyak 15 bank telah membangun‎ online system dengan SIKP dan mendapat rekomendasi dari Kementerian Keuangan untuk menjadi bank penyalur KUR. Sisanya, sebanyak 20 bank dan LKBB sedang dalam proses membangun online system dengan SIKP yang terdapat di Kementrian Keuangan. "Penandatanganan perjanjian kerjasama ini sebagai titik awal bagi bank penyalur untuk menyalurkan KUR. Dengan bertambahnya bank penyalur, diharapkan akan mempercepat realisasi penyaluran KUR tahun ini", imbuh Braman.

Sementara itu, tercatat realisasi penyaluran KUR tahun 2016 per 7 Mei 2016 sebesar Rp 39,12 triliun kepada 1.640.524 debitur. Rinciannya, BRI sebesar Rp 29,06 triliun kepada 1.504.367 debitur, Bank Mandiri Rp 5,91 triliun kepada 119.005 debitur, Bank BNI Rp 4,12 triliun kepada 16.302 debitur, Bank Sinarmas Rp 9,7 miliar kepada 592 debitur, Bank NTT Rp 11,9 miliar kepada 252 debitur, serta Bank Kalbar Rp 0,8 miliar kepada 6 debitur.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram menyebutkan bahwa sejak digulirkan pertama pada 2007, KUR sudah berkembang secara pesat. Dari sisi anggaran, bila pada tahun 2007 hanya tersedia Rp27 triliun, kini sudah tersedia mencapai Rp100-120 triliun. "Tingkat suku bunga juga terus bergeser hingga masuk ke single digit, yaitu 9 persen. Bahkan, rencananya, tahun depan akan turun lagi menjadi 7 persen", kata Agus.

Tak hanya itu, lanjut Agus, eksistensi KUR juga melibatkan multi sektor dan multi dimensi, melibatkan partisipasi masyarakat dari level Presiden hingga pelaku usaha mikro dan kecil. Bank penyalur KUR pun tak hanya bank milik pemerintah (BUMN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) saja. Kini, bank swasta pun sudah mulai turut menjadi penyalur KUR. Begitu juga koperasi yang tengah digodok untuk menjadi penyalur KUR. "Sektor KUR juga sudah berkembang ke sektor lain. Sekarang sudah ada KUR khusus TKI dan UKM yang berorientasi ekspor" ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement