REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan tekanan harga akan menurun pada September. Hal tersebut disebabkan oleh kembali normalnya konsumsi masyarakat pasca bulan puasa dan Idul Fitri.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Tirta Segara mengatakan, indikasi penurunan harga terlihat dari indeks ekspektasi harga pada September yang sebesar 138,3. Angka tersebut menurun 11,8 poin dibandingkan Mei.
Hasil survei juga menunjukan penjualan pada September diperkirakan menurun. Hal itu terlihat dari nilai saldo bersih terhadap ekspektasi penjualan pada September sebesar 133,8, menurun 3,5 poin dibandingkan 137,3 pada periode sebelumnya.
"Penurunan penjualan didorong kembalinya konsumsi masyarakat pasca bulan puasa dan Idul Fitri," ujar Tirta.
Sementara itu, pada bulan Juli lalu, penjualan eceran diperkirakan meningkat didorong meningkatnya belanja masyarakat ketika bulan puasa, menjelang Idul Fitri dan adanya program diskon. Penjualan eceran pada Juli diperkirakan tumbuh 12,3 persen yoy, meningkat dibandingkan 8,6 persen yoy pada bulan sebeumnya.
Ekspansi penjualan pada Juli terlihat pada kategori peralatan informasi dan komunikasi yang tumbuh 42,6 persen yoy dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 15,8 persen yoy. Penjualan bahan bakar justru menurun menjadi 0,8 persen yoy.
Dilihat secara bulanan, pendorong pertumbuhan adalah penjualan kelompok makanan, minuman dan tembakau yang tumbuh 19,3 persen mtm dan kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang tumbuh 16,4 persen mtm.
Peningkatan penjualan secara tahunan hanya terjadi di Bandung, Semarang dan Manado. Padahal survei dilakukan di 9 kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, Banjarmasin, Makasar, Manado dan Denpasar. Pertumbuhan penjualan tertinggi diperkirakan terjadi di Semarang yang tumbuh 34,5 persen yoy, meningkat dibandingkan kontraksi sebesar 3,8 persen yoy pada bulan sebeumnya.
Secara bulanan, pertumbuhaan penjualan eceran terjadi pada seluruh kota yang disurvei, terbesar di Jakarta sebesar 34,5 persen. Pertumbuhan didorong oleh meningkatnya permintaan selama bulan puasa, Idul Fitri dan didukung kegiatan Jakarta Great Sale.