Jumat 24 Apr 2026 15:34 WIB

Rupiah Undervalued tapi Terus Tertekan, Ini Analisis Ekonom

Pergerakan rupiah lebih dipengaruhi ekspektasi investor terhadap risiko global.

Rep: Eva Rianti/ Red: Satria K Yudha
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dinilai berada di bawah nilai fundamental atau undervalued, namun belum menunjukkan penguatan di pasar. Ekonom menilai kondisi ini dipengaruhi faktor global dan persepsi investor yang belum sepenuhnya pulih.

Tekanan eksternal dan struktur ekonomi domestik dinilai masih membayangi pergerakan rupiah. Ekonom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan, kondisi undervalued tidak otomatis membuat rupiah menguat. “Mengapa rupiah masih melemah ketika BI menegaskan bahwa nilai tukar saat ini sudah berada di bawah nilai fundamentalnya? Mengapa sebuah mata uang yang didukung pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, inflasi yang relatif terkendali, cadangan devisa yang masih memadai, dan kredibilitas bank sentral justru belum segera mendapatkan apresiasi pasar?,” kata Achmad, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga

Ia menjelaskan, istilah undervalued lebih tepat dibaca sebagai diagnosis, bukan jaminan penguatan. Menurutnya, nilai tukar mencerminkan kepercayaan, ekspektasi, arus modal, dan sentimen global, bukan sekadar kondisi ekonomi domestik.

Achmad mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipicu ketegangan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS. Kondisi ini memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

“Data yang disampaikan juga memperlihatkan tekanan nyata. Modal asing keluar sebesar Rp 28 triliun pada kuartal I 2026. Pada saat yang sama, rupiah berada di kisaran Rp 17.140 per dolar AS dan melemah 0,87 persen secara point to point dibanding akhir Maret 2026,” kata Achmad.

Menurut Achmad, cadangan devisa sebesar 148,2 miliar dolar AS memang menjadi penyangga stabilitas, tetapi tidak cukup untuk mengubah arah tren jangka panjang.

“Bank sentral bisa meredam gejolak, tetapi tidak bisa sendirian melawan arus besar pasar global yang sedang bergerak ke arah dolar,” kata Achmad.

Ia menilai pergerakan rupiah lebih dipengaruhi ekspektasi investor terhadap risiko global, inflasi impor, serta imbal hasil aset dolar yang masih menarik.

“Oleh karena itu, ketika BI menyatakan fundamental rupiah seharusnya lebih kuat, saya cenderung setuju secara teori, tetapi belum tentu secara pasar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement