Selasa 28 Apr 2026 18:28 WIB

Rupiah Undervalued tapi Masih Terus Tertekan

Meski dinilai murah secara fundamental, rupiah belum lepas dari tekanan pasar.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak melemah di atas level Rp 17.200-an per dolar AS. Rupiah masih melanjutkan koreksi, meski dinilai berada di bawah nilai fundamental atau undervalued.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 32 poin atau 0,19 persen menuju level Rp 17.243 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (28/4/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.211 per dolar AS.

Baca Juga

"Dalam kondisi rupiah melemah, Pemerintah maupun BI (Bank Indonesia) selalu beranggapan bahwa rupiah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Narasi tersebut terus berulang dalam berbagai situasi, baik saat gejolak global, pandemi, maupun ketika kondisi pasar relatif stabil. Bahkan, ketika nilai tukar menyentuh kisaran Rp 17.300 per dolar AS, pernyataan serupa kembali mengemuka," ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).

Ibrahim menuturkan, secara historis, sejak 2014 nilai rupiah berada di kisaran Rp 12.000 per dolar AS, hingga melemah ke level Rp 17.000-an per dolar AS dalam beberapa tahun terakhir. Ia mempertanyakan relevansi narasi tersebut, mengingat tren jangka panjang rupiah yang justru terus mengalami depresiasi.

"Kondisi tersebut semestinya mendorong evaluasi lebih mendalam terhadap pemahaman mengenai nilai wajar rupiah, alih-alih terus mengulang narasi yang sama," ujarnya.

Ia menjelaskan, di satu sisi, sejumlah indikator makroekonomi Indonesia terlihat relatif kuat, seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta sistem keuangan yang terjaga. Di sisi lain, terdapat dinamika struktural yang dinilai perlu mendapat perhatian, seperti cadangan devisa yang sebagian ditopang oleh utang, arus investasi asing yang masuk tetapi diikuti aliran keluar dalam bentuk dividen dan bunga, serta gejala pelemahan struktur ekonomi seperti deindustrialisasi dini. Ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek juga menjadi faktor yang membuat nilai tukar rentan terhadap tekanan eksternal.

"Penggunaan narasi 'rupiah undervalued' telah bergeser dari analisis ekonomi menjadi instrumen komunikasi untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga optimisme. Namun, narasi tersebut berpotensi menjadi problematis apabila terus diulang tanpa diiringi perbaikan fundamental yang nyata. Penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi. Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata," terangnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement