Sabtu 06 Jun 2026 16:55 WIB

Purbaya Akui Persepsi Negatif Jadi Kendala Utama Pasar

Pemerintah tetap dapat menjaga defisit anggaran pada kisaran 2-3 persen.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Lida Puspaningtyas
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kanan) bersama dengan Mensesneg Prasetyo Hadi (kiri), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) dan Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohamad Hekal (kanan) bertumpu tangan usai rapat koordinasi tentang fiskal dan moneter di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pemerintah, DPR dan Bank Indonesia sepakat untuk memfokuskan fiskal dan moneter agar bisa seirama demi menciptakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Foto: ANTARA FOTO/Meli Pratiwi
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kanan) bersama dengan Mensesneg Prasetyo Hadi (kiri), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) dan Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohamad Hekal (kanan) bertumpu tangan usai rapat koordinasi tentang fiskal dan moneter di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pemerintah, DPR dan Bank Indonesia sepakat untuk memfokuskan fiskal dan moneter agar bisa seirama demi menciptakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai persepsi negatif terhadap ekonomi Indonesia menjadi kendala utama yang menekan pasar keuangan domestik. Menurut dia, persepsi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini.

“Kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita yang enggak terlalu benar,” kata Purbaya di Gedung DPR RI, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga

Purbaya mengatakan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih terjaga. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga masih berjalan cukup baik dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap meningkat.

“APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya aktivitas ekonomi meningkat,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian pihak terpengaruh oleh anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi kondisi yang buruk. Karena itu, pemerintah akan memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menghilangkan sentimen negatif yang berkembang di pasar.

“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” kata Purbaya.

Purbaya juga menanggapi pandangan sejumlah analis yang menilai program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program lainnya, berpotensi menekan kondisi fiskal. Menurut dia, program-program tersebut bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan apabila diperlukan.

Ia menegaskan pemerintah tetap dapat menjaga defisit anggaran pada kisaran 2-3 persen meski menjalankan berbagai program prioritas.

“Dengan program itu pun, defisit bisa kita pertahankan di 2-3 persen,” ujarnya.

Purbaya menambahkan pemerintah memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian terhadap sejumlah program sesuai kebutuhan. “Semuanya kita bisa lihat, kita bisa atur, kita bisa kendalikan,” katanya.

photo
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (tengah) berbincang dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dan Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohamad Hekal (kanan) saat rapat koordinasi tentang fiskal dan moneter di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pemerintah, DPR dan Bank Indonesia sepakat untuk memfokuskan fiskal dan moneter agar bisa seirama demi menciptakan stabilisasi nilai tukar rupiah. - (ANTARA FOTO/Meli Pratiwi)

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi