REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen tak lepas dari program pemerintah yang dieksekusi dengan cukup baik. Anin menyampaikan percepatan belanja pemerintah sejak Januari, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan masif hingga Rp 80 triliun, pembangunan 3 juta rumah yang cukup agresif, dan sejumlah program prioritas lainnya ikut mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi.
"Kami mengapresiasi kinerja pemerintah. Program pemerintah yang diterapkan sejak awal 2025 mulai menunjukkan hasil tahun ini,” ujar Anin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Anin mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen di tengah kondisi global yang memburuk merupakan capaian yang luar biasa dan perlu diapresiasi. Kadin, lanjut dia, akan terus bekerja sama dengan pemerintah, mendukung, dan berpartisipasi penuh terhadap semua program untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pemerataan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
"Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen adalah capaian tertinggi di antara negara anggota G20," lanjut Anin.
Pada periode yang sama, sambung Anin, ekonomi China tumbuh 5 persen, Singapura 4,6 persen, Korea Selatan 3,6 persen, Arab Saudi 2,8 persen, dan Amerika Serikat 2,8 persen. "Ini adalah prestasi membanggakan," kata Anin.
Anin mengatakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen menandakan perbaikan iklim investasi di Indonesia. Anin menilai perbaikan kinerja ekonomi nasional tidak hanya ditopang oleh belanja pemerintah dan konsumsi domestik, tetapi juga mulai ditandai terbukanya pasar ekspor baru serta meningkatnya aliran investasi, termasuk dari skala menengah yang mulai menyebar ke daerah.
"Upaya membuka pasar ekspor baru, meski masih pada tahap awal, sudah mulai memberikan dampak di tengah berbagai tantangan global," ujarnya.
Investasi Ikut Andil
Pada saat yang sama, Anin menilai, arus investasi yang masuk semakin beragam, tidak hanya didominasi proyek besar, tetapi juga investasi menengah yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah. Anin menambahkan, investasi yang berkembang saat ini tidak hanya berskala besar, tetapi juga mulai menyasar sektor dan wilayah yang lebih luas.
Menurut Anin, tantangan berikutnya adalah memastikan investasi tersebut terus mengalir ke daerah melalui penguatan koordinasi dan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Hanya dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat, melainkan menyebar secara lebih merata ke berbagai daerah.
“Ke depan tinggal bagaimana diskusi dengan pemerintah daerah agar investasi di daerah bisa ditingkatkan dan daerah ikut maju. Pertumbuhan ekonomi harus juga terjadi di daerah," ungkap Anin.