REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perilaku investor ritel di pasar saham mulai bergeser seiring dinamika pasar yang semakin cepat. Keputusan investasi yang sebelumnya banyak didorong insting dan mengikuti tren komunitas kini mulai digantikan pendekatan berbasis data real time.
Perubahan tersebut terjadi di tengah lonjakan jumlah investor pasar modal. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah investor mencapai sekitar 24,7 juta hingga awal 2026, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat total investor telah melampaui 26 juta dengan sekitar 9 juta investor saham.
Kenaikan jumlah investor mencerminkan minat masyarakat terhadap investasi yang terus tumbuh, namun tidak seluruh investor siap menghadapi pergerakan pasar yang semakin dinamis. Fluktuasi harga saham yang cepat membuat pendekatan berbasis feeling semakin berisiko karena keterlambatan membaca momentum kerap berujung pada pembelian di harga tinggi dan kerugian saat tren berbalik.
Presiden Direktur PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The mengatakan praktik transaksi berbasis emosi masih banyak terjadi di kalangan investor ritel. “Banyak yang membeli karena feeling dan menjual karena panik. Tanpa data real time, keputusan jadi tidak akurat,” kata Moleonoto dalam keterangan, Rabu (6/5/2026).
Menurut dia, perubahan perilaku pasar membuat investor semakin membutuhkan sistem yang mampu membaca pergerakan transaksi secara cepat. Karena itu, sejumlah platform trading mulai mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk melalui pembaruan tampilan dan pengalaman pengguna (UI/UX) yang terhubung langsung dengan data pasar secara real time.
Sejumlah platform trading kini mulai mengandalkan teknologi analitik dan kecerdasan buatan untuk membaca aktivitas pasar secara langsung. Salah satunya terlihat pada fitur yang disematkan di aplikasi seperti IPOT, yang digunakan sebagian investor untuk membantu memantau pergerakan transaksi secara real time.
Di lapangan, perubahan pendekatan tersebut mulai terlihat dari perilaku investor yang menunda transaksi hingga memperoleh konfirmasi data, bahkan menggunakan lebih dari satu aplikasi untuk memastikan sinyal pasar. Pergeseran ini menunjukkan perubahan dari spekulasi menuju keputusan investasi yang lebih terukur.
Meski demikian, kesenjangan masih terjadi. Investor yang belum memanfaatkan data real time dinilai lebih rentan terhadap fluktuasi pasar jangka pendek.
Dalam kondisi pasar yang semakin cepat, adaptasi terhadap penggunaan data diperkirakan menjadi faktor penentu bagi investor ritel dalam menjaga kualitas keputusan investasi.