REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan geopolitik dan volatilitas harga bahan bakar serta komoditas membuat perusahaan pertambangan semakin selektif dalam menentukan belanja modal (capital expenditure/capex). Kondisi tersebut mendorong industri mencari sumber efisiensi baru melalui penerapan kecerdasan buatan (AI), elektrifikasi, dan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas.
Hal tersebut mengemuka dalam Energy Insights Forum bertajuk The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang ESDM Aryo Djojohadikusumo mengatakan, dinamika geopolitik global dapat memengaruhi anggaran, proyeksi keuangan, hingga ketahanan bisnis perusahaan pertambangan, termasuk melalui perubahan harga dan ketersediaan bahan bakar.
“Banyak perusahaan pertambangan di ekosistem Kadin bertahan karena mereka sudah mengantisipasi masa depan. Apa yang sebelumnya hanya menjadi proyek percontohan, kini menjadi kebutuhan operasional,” ujar Aryo.
Menurutnya, inovasi menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat ketahanan bisnis pertambangan dalam menghadapi ketidakpastian jangka panjang.
“Dari apa yang saya pelajari dari perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia, tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun ketahanan dan kekuatan jangka panjang selain dengan berinovasi,” kata Aryo.
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan, penerapan teknologi dalam industri pertambangan perlu disertai rencana eksekusi yang jelas. Hal tersebut terutama berlaku untuk teknologi seperti AI dan elektrifikasi yang membutuhkan investasi serta penyesuaian operasional.
“Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keunggulan sumber daya. Kita harus bergeser dari resource advantage menuju intelligence advantage. AI menjadi salah satu cara untuk meningkatkan skala ekonomi, produktivitas, dan memperkuat daya saing industri,” ujar Dany.
Menurut Dany, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada kebutuhan operasional, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. MIND ID mulai mengembangkan pemanfaatan AI untuk meningkatkan keselamatan kerja, memantau kondisi peralatan, dan mengoptimalkan proses produksi.
Pemetaan McKinsey & Company dalam forum tersebut juga menunjukkan adanya perubahan sumber pertumbuhan industri pertambangan. Pertumbuhan tidak lagi hanya mengandalkan peningkatan volume produksi, tetapi mulai bergeser pada penciptaan nilai melalui mineral kritis, teknologi, dan efisiensi operasional.
Dalam sesi From Volume to Value: Winning the Next Decade of Metals & Mining, Partner McKinsey & Company Yanto dan Associate Partner Narendra Adoe membahas perubahan sumber pertumbuhan industri mineral global, termasuk meningkatnya kebutuhan terhadap mineral kritis.
Yanto menjelaskan, mineral fundamental seperti batu bara, tembaga, dan bijih besi masih memiliki peran penting. Namun, mineral kritis yang dibutuhkan untuk teknologi baru berpotensi menjadi sumber pertumbuhan berikutnya.
“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Untuk mineral yang sudah menjadi kekuatan kita, operational excellence menjadi kunci untuk menjaga daya saing secara fundamental. Di saat yang sama, kita perlu berinvestasi pada teknologi hilirisasi yang kompetitif agar Indonesia dapat menangkap nilai yang lebih besar dari lonjakan permintaan critical minerals, baik untuk transisi energi, AI, data center, maupun kebutuhan teknologi masa depan lainnya,” ujarnya.
Narendra Adoe mengatakan, Indonesia memiliki basis sumber daya mineral serta industri hulu dan midstream yang kuat. Namun, peningkatan nilai tambah masih terbuka di sepanjang rantai industri.
“Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas perannya di sepanjang rantai nilai, termasuk pada mineral kritis yang saat ini kapasitas pengolahan di hilir masih didominasi oleh negara lain” ujarnya.
Selain AI, elektrifikasi menjadi salah satu teknologi yang dibahas dalam forum tersebut. Peralihan dari kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) menuju kendaraan hybrid dan listrik dinilai berpotensi menekan konsumsi bahan bakar sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Namun, penerapan elektrifikasi membutuhkan investasi pada alat berat, infrastruktur pengisian daya, penyimpanan energi, dan jaringan listrik. Tantangan tersebut menjadi lebih kompleks bagi tambang yang beroperasi di wilayah dengan akses listrik terbatas.
Pengembangan energi terbarukan dan microgrid dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung kebutuhan listrik di wilayah operasional tambang. Dengan pendekatan tersebut, elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan penggantian kendaraan, tetapi juga kesiapan sistem energi yang menopang kegiatan pertambangan.
Sementara itu, sesi AI-led Innovation in Mining and Metals menghadirkan Associate Partner McKinsey & Company Vivek Jha dan CTO Google Cloud Indonesia Sai Prasad Kolluri. Sesi tersebut membahas penerapan AI untuk produktivitas, efisiensi, dan pengambilan keputusan dalam industri pertambangan.
Energy Insights Forum merupakan kolaborasi KADIN Indonesia Bidang ESDM dan Katadata Indonesia yang membahas perkembangan sektor energi dan mineral, termasuk regulasi, investasi, teknologi, dan perubahan industri. Forum tersebut juga menerbitkan buletin energi bulanan yang membahas perkembangan sektor energi dan mineral serta isu investasi.