Rabu 02 Sep 2026 16:55 WIB

IPB University Dorong Modernisasi Koperasi Berkaca dari Raksasa Global

Koperasi besar di dunia mampu menjadi raksasa ekonomi dengan modernisasi.

Rep: M. Nursyamsi/ Red: Lida Puspaningtyas
Koperasi Desa Merah Putih di Kaki Gunung Ceremai.
Foto: Istimewa
Koperasi Desa Merah Putih di Kaki Gunung Ceremai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Rahmat Yanuar mengatakan saat ini Indonesia tengah berada pada momentum untuk memperkuat peran koperasi. Hal ini disampaikan Rahmat dalam Strategic Discussion Series 3 Departemen Agribisnis IPB University bertajuk "Evolusi Kelembagaan Koperasi: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Pengalaman Global" di Ruang Equilibrium Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).

"Tema ini sangat relevan terutama ketika Indonesia sedang kembali menempatkan koperasi sebagai salah satu instrumen penting di dalam pembangunan ekonomi rakyat dan penguatan ekonomi perdesaan," ujar Rahmat.

Baca Juga

Rahmat menyebut koperasi kembali ditempatkan sebagai pilar utama dalam memperkuat ekonomi rakyat dan pembangunan wilayah perdesaan di Indonesia. Namun, sambung dia, tantangan perubahan teknologi dan persaingan global menuntut lembaga ini tidak sekadar bertahan, melainkan bertransformasi menjadi entitas bisnis yang modern dan profesional.

"Isu ini menjadi krusial di tengah upaya pemerintah memacu ekonomi akar rumput," sambung Rahmat.

Rahmat menjelaskan secara historis koperasi lahir sebagai solusi atas ketimpangan posisi tawar dan berbagai kegagalan pasar yang merugikan pelaku usaha kecil. Meski demikian, koperasi tidak boleh statis yang mana integrasi rantai nilai dan revolusi teknologi mengharuskan koperasi untuk adaptif.

Rahmat pun menyoroti keberhasilan sejumlah koperasi besar di dunia yang mampu menjadi raksasa ekonomi tanpa meninggalkan jati dirinya. Hal ini membuktikan model bisnis koperasi sangat kompetitif jika dikelola dengan tepat.

"Pengalaman Fonterra (Selandia Baru), pengalaman Amul di India, pengalaman Raiffeisen di Jerman, pengalaman Mondragon di Spanyol menunjukkan koperasi dapat tumbuh menjadi organisasi ekonomi besar tanpa kehilangan identitasnya," ucap Rahmat.

Rahmat menyampaikan koperasi-koperasi tersebut tetap mempertahankan prinsip dasar koperasi, namun mampu mengembangkan aspek tata kelola, permodalan, manajemen, teknologi dan model bisnis. Rahmat menekankan perdebatan mengenai relevansi koperasi di era modern seharusnya sudah berakhir dengan fokus utama mencari formula agar koperasi di Indonesia memiliki daya saing yang setara dengan korporasi global namun tetap berbasis pada kesejahteraan anggota.

"Pertanyaan utama diskusi kita mungkin bukan lagi pada koperasi apakah masih relevan, tetapi melainkan bagaimana koperasi Indonesia dapat menjadi modern, profesional dan kompetitif tanpa kehilangan kepemilikan, kendali serta manfaat bagi anggotanya," kata Rahmat.

Berita Lainnya

Rekomendasi