REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas kreator di platform digital mulai melampaui produksi konten dan berkembang menjadi kegiatan yang berdampak langsung pada ekonomi, lingkungan, dan pelestarian budaya. Sejumlah kreator memanfaatkan basis pengikut dan ekosistem digital untuk membuka akses pasar UMKM, menggerakkan penanaman pohon, hingga mengenalkan kembali sejarah dan budaya lokal.
Kiprah tersebut terlihat dari tiga kreator muda, Jerhemy Owen, Elsa Novia, dan Hendri Alejandro, yang mengembangkan aktivitas digital mereka menjadi berbagai kegiatan di masyarakat.
Dari sisi ekonomi, Hendri Alejandro memanfaatkan ekosistem affiliate dan live shopping melalui Ibun Mall untuk membantu UMKM di Desa Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memperluas pasar.
Hendri melihat sejumlah industri rumahan di desanya memiliki kemampuan produksi, tetapi menghadapi kendala dalam menjangkau konsumen yang lebih luas. Ia kemudian membantu memasarkan produk melalui kanal digital sekaligus melatih warga menjadi host live.
“Aktivitasnya ada live shopping dan lainnya,” kata Hendri dalam acara #Serunya17an di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Saat ini, Ibun Mall mendukung lebih dari 30 UMKM lokal dan bekerja sama dengan lebih dari 100 host live. Hendri juga membangun Komunitas Host 1 Miliar yang beranggotakan lebih dari 300 kreator.
Di bidang lingkungan, Jerhemy Owen memanfaatkan konten digital untuk mengajak masyarakat terlibat dalam penanaman pohon dan penyediaan akses air bersih. Melalui gerakan Wenanam, lebih dari 10 ribu bibit pohon terkumpul pada 2025.
Gerakan tersebut kemudian berlanjut melalui #PohonUntukAceh. Hingga Juli 2026, gerakan itu telah mengumpulkan 250 ribu bibit.
“Termasuk juga ada pembangunan akses air bersih, yaitu Wengalir, kami membangun akses air bersih di Nusa Tenggara Timur, juga membangun sekolah,” kata Jerhemy.
Sementara itu, Elsa Novia menggunakan konten sejarah dan budaya untuk mengenalkan kawasan serta tradisi Tionghoa-Indonesia kepada masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah Benteng Walking Tour di Kota Lama Tangerang dan kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat.
“Gara-gara saya buat konten di TikTok, saya membuat tur budaya Tionghoa, namanya Benteng Walking Tour, yang memperkenalkan secara langsung budaya Tionghoa Cina Benteng di daerah saya,” kata Elsa.
Selama sekitar tiga tahun, tur tersebut telah diikuti ribuan peserta. Kegiatan itu sekaligus membuka peluang bagi destinasi budaya, pelaku kuliner, dan UMKM lokal untuk mendapatkan perhatian dari pengunjung.
Tiga pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana platform digital dapat digunakan untuk memperluas dampak di luar ruang digital. Konten tidak hanya menjadi sarana hiburan atau komunikasi, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi lokal, aksi lingkungan, dan pengenalan budaya.