REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok cadangan beras pemerintah (CBP) Indonesia aman hingga Mei 2027 dengan cadangan melampaui 5 juta ton. Amran mengatakan, stok tersebut menjadi modal kuat dalam menghadapi potensi fenomena cuaca El Nino. Pemerintah, kata dia, telah melakukan langkah antisipasi sejak dini melalui penguatan stok pangan nasional, terutama beras, guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.
"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok kita sampai detik ini 5,2 sampai 5,3 juta ton. Itu stok tertinggi sepanjang sejarah. Nah, ini Alhamdulillah cukup baik," kata Amran dalam keterangan di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Amran mengaku optimistis ketersediaan beras Indonesia hingga Desember 2026 masih aman. Bahkan, berdasarkan estimasinya, keseluruhan stok beras masih dapat mencukupi hingga Mei 2027.
"Insya Allah aman, katakanlah sampai Desember. (Bahkan) beras kita sudah sampai Mei (2027) pun cukup. Jadi tidak masalah," tambah Amran.
Hal tersebut selaras dengan Proyeksi Neraca Pangan untuk komoditas beras yang telah diperbarui pada awal Juni 2026. Neraca akhir tahun beras Indonesia diestimasi masih mencatat stok sebesar 16,24 juta ton.
Data itu berasal dari stok awal tahun 2026 sebesar 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi setahun sebesar 34,76 juta ton, kemudian dikurangi kebutuhan konsumsi setahun sebesar 31,1 juta ton.
Dengan proyeksi neraca akhir tahun beras sebesar 16,24 juta ton tersebut, stok dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional selama sekitar lima bulan pada 2027. Selain itu, pada Maret-April 2027 stok beras nasional diperkirakan kembali meningkat karena memasuki musim panen raya.
Kendati demikian, Amran juga menyatakan terdapat kemungkinan penurunan produksi beras pada 2026, meskipun relatif kecil. Hal itu merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan total produksi beras Januari-Juli 2026 diproyeksikan menurun 0,08 juta ton dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Tahun lalu surplus (produksi) 4 juta ton. Anggaplah sampai akhir tahun turun 0,2 persen, kurang lebih 80 ribu ton. (Tapi masih) surplus 4 juta ton selama dua tahun. Jangan 0,2 persen dibandingkan tahun lalu, kan tahun lalu sudah naik tinggi. Itu (surplus) 4 juta ton," ujar Amran.
Prediksi surplus produksi sebesar 4 juta ton pada 2026 tersebut dapat menjadi target penyerapan untuk stok CBP yang dikelola Perum Bulog. Stok CBP pun berpotensi terus meningkat seiring akselerasi produksi beras nasional.