REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Phapros Tbk mencatat lonjakan laba bersih pada kuartal I 2026 setelah berhasil menjaga pertumbuhan penjualan dan efisiensi biaya. Kinerja ini memperpanjang tren pemulihan perusahaan sejak tahun lalu. Perusahaan farmasi pelat merah tersebut membalikkan posisi dari rugi menjadi laba dalam periode yang sama.
Plt Direktur Utama Phapros Ida Rahmi Kurniasih mengatakan, capaian ini ditopang peningkatan penjualan dan pengendalian biaya. “Profitabilitas Phapros pada kuartal I 2026 ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 10,17 persen menjadi Rp221,09 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp200,67 miliar,” kata Ida, Jumat (24/4/2026).
Ia menyebut pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi dibanding biaya produksi mendorong kenaikan laba kotor. Beban pokok penjualan hanya naik 5,04 persen, sementara beban usaha meningkat 7,35 persen secara tahunan.
Ida mengatakan stabilitas biaya menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas. “Di samping mampu menjaga stabilitas COGS, beban usaha Phapros pada Januari-Maret 2026 juga relatif stabil hanya naik 7,35 persen yoy,” kata Ida.
Dengan kondisi tersebut, Phapros mencatat laba bersih sebesar Rp761,49 juta, berbalik dari kerugian Rp5,92 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Arus kas juga membaik dengan posisi positif Rp37,2 miliar, meningkat dari minus Rp19,6 miliar.
Ida mengatakan kinerja ini menunjukkan perusahaan mampu beradaptasi di tengah tekanan global. “Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Phapros mampu menjaga kinerja keuangan dengan baik sehingga berhasil mencetak laba bersih,” kata Ida.
Menurut Ida, strategi perusahaan difokuskan pada optimalisasi kanal penjualan, menjaga ketersediaan produk, serta efisiensi biaya di seluruh lini. Perusahaan juga melakukan mitigasi risiko terhadap kenaikan harga bahan baku melalui kontrak pembelian sejak awal tahun.
Ida mengatakan langkah mitigasi dilakukan untuk menjaga stabilitas biaya produksi. “Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun dan terus memantau perkembangan agar tetap adaptif,” kata Ida.
Salah satu penopang utama pertumbuhan berasal dari segmen obat generik bermerek yang mencatat lonjakan signifikan. Penjualan segmen ini naik 59 persen menjadi Rp128,70 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp80,88 miliar.
Perusahaan juga mencatat kontribusi produk obat anti tuberkulosis dan tablet tambah darah sebagai bagian dari dukungan terhadap program kesehatan pemerintah, termasuk penanganan TBC, anemia, dan stunting.