Jumat 27 Mar 2026 10:12 WIB

Masih Dibayangi Perang, IHSG Melemah Ikuti Bursa Global

Kesepakatan AS, Israel, dan Iran kemungkinan kecil tercapai.

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham global seiring ketidakpastian arah konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

IHSG dibuka melemah 27,72 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.316,37. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,84 poin atau 0,66 persen ke posisi 726,89.

Baca Juga

“Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran level 7.050- 7.250,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Dari mancanegara, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS tidak yakin apakah mampu atau bersedia membuat kesepakatan damai dengan Iran. Dalam rapat kabinet, Trump mengatakan Iran memohon untuk membuat kesepakatan.

Kemudian, Trump memosting di media sosial, bahwa sesuai permintaan pemerintah Iran, dirinya memperpanjang penangguhan serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari.

Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa pembicaraan tengah berlangsung, meskipun Iran sudah sering membantah adanya negosiasi tersebut. Pasar saham global terus menunjukkan pola perdagangan yang naik-turun, karena investor membuat keputusan perdagangan berdasarkan berita yang kontras tentang konflik tersebut.

Meskipun pelaku pasar sebagian besar berharap terhadap berakhirnya konflik, namun demikian, pesan yang beragam telah membebani sentimen.

“Hal ini karena pesan yang beragam tersebut mempengaruhi pergerakan harga minyak mentah, yang terkait erat dengan ekspektasi akan biaya energi yang dapat menimbulkan kenaikan inflasi,” ujar Ratna.

Harga minyak mentah global kembali menguat setelah Iran mengisyaratkan tidak berniat mengadakan pembicaraan langsung dengan AS, meskipun proposal AS sedang ditinjau oleh para pejabat Iran.

Seiring dengan itu, OECD memperingatkan percepatan kenaikan harga dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, apabila harga energi meningkat lebih jauh akibat konflik yang berkepanjangan. Di sisi lain, beberapa kapal dari China, India, Jepang, Turki dan Thailand telah diizinkan melewati Selat Hormuz oleh Iran.

Selat Hormuz

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement