REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan negara-negara ASEAN+3 tidak bisa menghadapi ketidakpastian global secara sendiri-sendiri. Menurut dia, kolaborasi dan koordinasi kawasan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas energi.
Merespons situasi terkini, DEN bersama ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menggelar seminar ekonomi regional di Jakarta pada Senin (25/5/2026). Forum tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, pelaku usaha, sektor keuangan, dan organisasi internasional untuk membahas perkembangan ekonomi kawasan serta respons menghadapi dinamika global.
“Jika kita melihat data saat ini, tantangan ekonomi seperti meningkatnya ketidakpastian, geopolitik, fragmentasi geopolitik yang kian tajam, konflik, dan ketidakstabilan, kita harus sadar akan hal ini,” kata Luhut dalam seminar bertajuk “Navigating Global Uncertainty: Sustaining Growth and Stability in ASEAN” itu.
Ia menyinggung perang Rusia-Ukraina, perlambatan ekonomi global, kebijakan tarif timbal balik, hingga gangguan rantai pasok mulai memberi tekanan baru terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Kondisi tersebut membuat koordinasi dan kolaborasi regional menjadi semakin penting.
Luhut menyoroti besarnya ketergantungan negara-negara ASEAN terhadap pasokan energi dan bahan baku industri dari Timur Tengah. Menurut dia, kawasan menjadi rentan terhadap gejolak geopolitik global, terutama jika terjadi gangguan di jalur perdagangan energi dunia seperti Selat Hormuz.
“Terkait harga minyak hari ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jika harga rata-rata mencapai 90 dolar AS sementara anggaran negara kita dipatok pada 70 dolar AS, ada selisih 20 dolar AS,” jelas purnawirawan jenderal bintang empat itu.
Luhut memperkirakan lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap APBN hingga sekitar Rp 150 triliun. Pemerintah diminta mewaspadai perkembangan harga energi global dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Ia menyebut defisit transaksi berjalan tetap rendah, sektor perbankan terjaga, dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Meskipun ada tantangan global dan volatilitas nilai tukar, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Luhut.
Ia menambahkan pemerintah terus mendorong deregulasi untuk meningkatkan daya saing dan memperkuat transparansi tata kelola. Digitalisasi pemerintahan juga dipercepat untuk menekan inefisiensi sekaligus mengurangi potensi korupsi dalam layanan publik dan pengadaan pemerintah.