Jumat 29 May 2026 17:57 WIB

Rupiah Terus Melemah, Ekonom Soroti Risiko Fiskal dan Harga Minyak Dunia

BI dinilai perlu memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, pelemahan nilai tukar yang terus mencetak rekor menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia tengah menghadapi himpitan ganda yakni tekanan moneter global dan tantangan struktural domestik. Nilai tukar kini menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS.

Padahal, suku bunga acuan (BI-Rate) telah dinaikkan 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen demi memperkuat stabilisasi rupiah.

Baca Juga

“Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam himpitan ganda yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Menurut Rahma, pelemahan rupiah ini membawa sinyal dan makna yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi angka yaitu sinyal dominasi higher for much longer yang persisten.

Meskipun Bank Indonesia (BI) sudah mengerek bunga acuan, pasar melihat bahwa selisih (spread) imbal hasil (yield) masih belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan indeks dolar (DXY) ke posisi 99,10 dan kenaikan yield US Treasury menunjukkan bahwa investor masih meyakini suku bunga di AS akan bertahan tinggi jauh lebih lama.

“Rupiah yang tetap melemah menandakan bahwa daya tarik instrumen domestik sedang diuji oleh magnet safe haven yang sangat kuat,” kata Rahma.

Ia menambahkan bahwa sinyal ini juga mengarah pada kondisi pasokan devisa yang mengetat. Beberapa faktor yang patut diwaspadai yaitu kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen yang biasanya mencapai puncak pada kuartal II.

Pelemahan yang tajam ini, menurut Rahma, memaknai adanya ketidakseimbangan antara permintaan yang melonjak dengan pasokan devisa yang melambat.

Kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah meningkatkan permintaan dolar untuk impor energi, seperti kebutuhan Pertamina, sehingga menambah tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement