Ahad 16 Aug 2026 11:54 WIB

Prabowo Ingin Jadikan Pasar Modal Indonesia Terbesar di Dunia

Kapitalisasi pasar BEI mengalami peningkatan 0,28 persen menjadi Rp 11.243 triliun.

Rep: Erik PP/Eva Rianti/ Red: Erik Purnama Putra
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden RI menjanjikan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis dunia dengan membangun bursa mineral dan komoditas strategis di dalam negeri. Kebijakan tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan harga komoditas yang selama ini banyak ditetapkan melalui pasar di luar negeri.

"Hari ini saya mengumumkan tahap lanjutan kebijakan ekspor satu pintu kita. Kita telah membahas bersama OJK bahwa kita ingin segera mendirikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis," ujar Prabowo saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Pusat Jumat (14/8/2026).

Baca Juga

Prabowo mengatakan Indonesia selama puluhan tahun menjadi salah satu produsen berbagai komoditas penting dunia, mulai dari kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, hingga karet. Oleh karena itu, Indonesia sebagai pemilik komoditas harus memiliki instrumen perdagangan sendiri agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar global.

"Rencana kita dengan dukungan DPR, kita rencanakan 1 Januari 2027, kita akan memiliki Bursa Komoditas sendiri. Kita targetkan ketentuan penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis," ujarnya.

Menurut Prabowo, keberadaan bursa tersebut akan menjadi fondasi pembentukan Indonesia reference price, yakni harga referensi Indonesia untuk berbagai komoditas utama ekspor. Pemerintah ingin membangun pasar yang dalam, transparan, likuid, dan dipercaya pelaku perdagangan internasional sehingga produsen, petani, eksportir, pembeli, dan investor nantinya dapat bertemu dalam satu sistem dengan data transaksi yang lebih terbuka.

Selain bursa komoditas, pemerintah juga akan melanjutkan reformasi pasar modal melalui demutualisasi. Langkah tersebut, menurut Prabowo, diarahkan agar pasar modal Indonesia semakin memenuhi standar internasional sekaligus membuka kesempatan bagi perusahaan rintisan, pengusaha, dan pelaku usaha nasional untuk memperoleh tambahan modal dan memperbesar skala bisnis.

"Demutualisasi akan membawa pasar modal Indonesia ke standar dunia dan menjadikan pasar modal Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia," ucap Prabowo.

Berita Lainnya

Rekomendasi