REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Produksi beras nasional yang meningkat berpotensi menciptakan surplus lebih besar tahun ini. Pemerintah membuka opsi ekspor untuk menjaga keseimbangan pasokan di dalam negeri jika surplus terus bertambah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peluang ekspor muncul apabila produksi beras melampaui kebutuhan domestik secara signifikan. “Kalau surplus 8 juta ton, solusinya apa kira-kira?” kata Amran saat berdialog dengan wartawan di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Amran menjelaskan cadangan pangan nasional saat ini berada pada level kuat. Perhitungan Kementerian Pertanian menunjukkan cadangan pangan tersedia hingga sekitar 324 hari, ditopang stok pemerintah, pasokan di sektor perdagangan dan hotel-restoran, serta potensi produksi yang masih berjalan setiap bulan.
Cadangan tersebut mencakup stok beras pemerintah di Perum Bulog sekitar 3,76 juta ton serta produksi dari lahan yang sedang memasuki masa panen. Produksi beras nasional juga terus berlangsung dengan kisaran 2,6 juta ton hingga 5,7 juta ton per bulan.
“Cadangan kita saat ini cukup hingga 324 hari. Di saat yang sama produksi terus berjalan setiap bulan sekitar 2,6 juta ton, bahkan bisa mencapai 5,7 juta ton,” ujar Amran.
Menurut Amran, beras menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional karena porsinya mencapai sekitar 65 hingga 70 persen dari konsumsi masyarakat Indonesia. Stabilitas pasokan beras menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Amran juga menyebut cadangan beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 3,76 juta ton. Dalam dua bulan ke depan, stok diperkirakan meningkat hingga minimal 5 juta ton seiring masuknya masa panen di sejumlah daerah.
“Sekarang stok kita 3,76 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah untuk posisi bulan Maret,” kata Amran.