Ahad 01 Mar 2026 04:31 WIB

Selat Hormuz Ditutup, Pasar Minyak Hadapi Risiko Resesi Dunia

Lebih dari sepertiga ekspor minyak laut dunia melewati jalur strategis ini.

Asap mengepul di pusat Teheran setelah serangan Israel, 28 Februari 2026. Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 mendahului AS yang lebuh dulu mengancam.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Asap mengepul di pusat Teheran setelah serangan Israel, 28 Februari 2026. Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 mendahului AS yang lebuh dulu mengancam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), berisiko memicu gangguan besar pasokan minyak di Timur Tengah yang dalam skenario terburuk dapat memicu resesi ekonomi global. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari.

Republik Islam tersebut memiliki garis pantai di Selat Hormuz, jalur perairan terpenting dalam perdagangan minyak global.

Baca Juga

Pasar minyak selama ini cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Para pedagang dinilai meremehkan ancaman pembalasan Iran terhadap serangan AS yang berpotensi mengguncang pasar, kata Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W. Bush.

“Ini benar-benar serius,” ujar McNally, pendiri dan presiden Rapidan Energy, dilansir CNBC, Ahad (1/3/2026).

Harga kontrak berjangka minyak mentah kemungkinan naik 5 hingga 7 dolar AS per barel saat perdagangan dibuka pukul 18.00 waktu timur AS (ET) pada Ahad, seiring pasar mulai memperhitungkan risiko tersebut.

Pada Jumat, harga minyak Brent ditutup di level 72,48 dolar AS per barel, naik 1,73 dolar AS atau 2,45 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di 67,02 dolar AS per barel, naik 1,81 dolar AS atau 2,78 persen.

Iran dapat mencoba menekan Presiden Donald Trump dengan membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas komersial, yang berpotensi mendorong harga minyak menembus 100 dolar AS per barel, kata McNally. Menurut dia, pasar belum sepenuhnya memperhitungkan fakta bahwa Teheran memiliki persediaan besar ranjau dan rudal jarak pendek yang dapat mengganggu lalu lintas di jalur tersebut secara serius.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement