REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan data terbaru neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan kondisi surplus. Per Desember 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 2,51 miliar dolar AS.
“Pada kondisi Desember 2025, Indonesia surplus 2,51 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Perinciannya, pada Desember 2025 nilai ekspor tercatat mencapai 26,35 miliar dolar AS, naik 11,64 persen dibandingkan posisi Desember 2024 sebesar 23,60 miliar dolar AS. Peningkatan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang tercatat sebesar 25,09 miliar dolar AS, naik 13,72 persen dari posisi 22,06 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara tahunan umumnya didorong sektor industri pengolahan. Nilai ekspor industri pengolahan naik 19,25 persen pada Desember 2025 dengan andil peningkatan 14,48 persen. Sementara itu, nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,26 miliar dolar AS, turun 18,14 persen dari posisi 1,54 miliar dolar AS pada Desember 2024.
Pada Desember 2025, nilai impor tercatat sebesar 23,83 miliar dolar AS, naik 10,81 persen dibandingkan Desember 2024 sebesar 21,51 miliar dolar AS. Peningkatan tersebut terutama didorong kenaikan impor nonmigas.
Tercatat nilai impor nonmigas pada Desember 2025 sebesar 23,48 miliar dolar AS, naik 12,48 persen dari posisi 18,21 miliar dolar AS pada Desember 2024. Sementara itu, nilai impor migas mencapai 3,35 miliar dolar AS, naik 1,71 persen dari posisi 3,3 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
“Khusus surplus pada Desember 2025 terutama ditopang surplus pada komoditas nonmigas sebesar 4,06 miliar dolar AS, dengan beberapa komoditas penyumbang surplus. Penyumbang utamanya yaitu lemak dan minyak hewan nabati atau HS15, bahan bakar mineral atau HS27, serta besi dan baja atau HS72,” terang Ateng.