Selasa 03 Mar 2026 13:50 WIB

Mengapa Inflasi Tahunan Februari 2026 Melonjak? Ini Penjelasan BI

Inflasi inti masih terjaga di level 2,63 persen.

Rep: Eva Rianti/ Red: Satria K Yudha
Tarif listrik (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Tarif listrik (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Inflasi tahunan pada Februari 2026 melonjak ke level 4,76 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan melampaui target 2,5 persen plus minus 1 persen. Lonjakan ini terutama dipicu normalisasi tarif listrik setelah diskon besar pada awal 2025, sehingga menciptakan efek basis yang signifikan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman mengatakan, angka inflasi yang tinggi perlu dibaca secara komprehensif karena dipengaruhi faktor base effect kebijakan diskon tarif listrik tahun lalu. “Kita harus membacanya dengan baik. 4,76 persen itu kenapa? Karena ada administered prices yang pada bulan Januari dan Februari 2025 mendapatkan diskon harga,” kata Aida, dikutip pada Selasa (3/3/2026).

Baca Juga

Pada Januari hingga Maret 2025, kelompok administered prices mengalami deflasi cukup dalam akibat diskon tarif listrik, bahkan pada Februari 2025 tercatat minus 9,02 persen. Sebaliknya, pada Februari 2026 kelompok ini melonjak ke 12,64 persen, sehingga mendorong inflasi tahunan tampak tinggi secara statistik.

Meski demikian, inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan domestik tercatat 2,63 persen secara tahunan. “Jadi masih terjaga semua mengenai inflasi.”

Menurutnya, tekanan inflasi tahunan berpotensi masih tinggi pada rilis Maret 2026. Namun setelah itu, BI memperkirakan inflasi akan kembali bergerak dalam rentang target. “Perkiraan kami di BI masih juga akan tinggi nanti (inflasi tahunan Maret 2026). Setelah itu akan mulai terjaga dengan baik, sehingga (tercapai) prospek inflasinya 2,5 persen plus minus 1 persen,” tuturnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement