Selasa 03 Mar 2026 16:18 WIB

Celios: Perang Iran-AS Jadi Momentum Percepat Transisi Energi Bersih

Selat Hormuz dan pasokan minyak global jadi alarm percepatan energi bersih.

 Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan perang Iran–Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel menjadi momentum untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) guna menggantikan energi fosil. (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan perang Iran–Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel menjadi momentum untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) guna menggantikan energi fosil. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan perang Iran–Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel menjadi momentum untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) guna menggantikan energi fosil.

“Pengembangan energi baru terbarukan guna menggantikan energi fosil. Energi fosil harus sudah mulai digantikan oleh EBT,” ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Baca Juga

Ia menambahkan, pengembangan mobil listrik hingga pembangkit energi industri seharusnya sudah mulai dipikirkan berbasis EBT.

“Teknologi panel surya seharusnya bisa mempunyai peran penting dalam suplai energi ke industri dan juga pembangkit listrik. Sehingga mobil listrik juga digerakkan oleh sumber energi yang bersih,” katanya.

Sebagai informasi, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan energi dan ekonomi nasional imbas eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Ibas mengatakan situasi tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.

Secara spesifik, Ibas menyoroti Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit ini, eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.

Selat Hormuz, imbuh dia, merupakan urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Qatar. Jika stabilitas di selat tersebut terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement