Jumat 04 Apr 2025 09:40 WIB

Ekonom: Pasar Kripto dan Saham Ketar-ketir dengan Tarif Baru Trump

Kebijakan tersebut menyebabkan melemahnya sejumlah instrumen investasi.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ilustrasi bursa kripto.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi bursa kripto.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang berdampak signifikan terhadap pasar keuangan global. Analyst Reku Fahmi Almuttaqin menilai kebijakan tersebut menyebabkan melemahnya sejumlah instrumen investasi, termasuk pasar saham AS dan aset kripto.

Setelah detail tarif diumumkan, ucap Fahmi, harga Bitcoin turun ke level 83 ribu dolar AS, meskipun sempat mengalami kenaikan hingga 87 ribu dolar AS pada saat pengumuman awal. Pasar saham AS juga tidak luput dari tekanan, dengan Nasdaq 100 merosot 2,3 persen dan S&P 500 anjlok 1,7 persen dalam sesi perdagangan setelah jam kerja usai pengumuman tersebut.

Baca Juga

"Saham-saham teknologi terkena pukulan besar, seperti Tesla (TSLA) dan Palantir (PLTR) yang masing-masing turun sekitar delapan persen, Apple (AAPL) anjlok tujuh persen, serta Amazon (AMZN) dan Nvidia (NVDA) masing-masing terperosok enam persen," ujar Fahmi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (4/4/2025).

Selain itu, saham perusahaan ritel seperti Nike (NKE) dan Walmart (WMT) juga tertekan dengan penurunan sebesar tujuh persen. Di sisi lain, sambung Fahmi, harga emas melonjak ke rekor baru mendekati 3.200 dolar AS per ounce, mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar.

"Kebijakan tersebut juga dapat berpotensi kembali memicu kenaikan inflasi dan akan semakin menunda dimulainya kembali tren penurunan suku bunga," lanjut Fahmi.

Fahmi menyampaikan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian yang ada dapat membuat investor menjadi lebih berhati-hati terhadap instrumen investasi berisiko tinggi seperti aset crypto dan saham. Kendati demikian, Fahmi menyampaikan dampak nyata dari kebijakan tersebut belum sepenuhnya terlihat.

"Hal ini akan bergantung pada respons perilaku konsumen dan bagaimana sektor bisnis menyikapi peraturan baru tersebut," sambung Fahmi.

Fahmi menyampaikan The Fed mungkin akan mempertimbangkan kebijakan pelonggaran melalui penurunan suku bunga apabila kebijakan ini menyebabkan peningkatan pengangguran dan resesi ekonomi. Namun, kebijakan ini juga bisa berubah sewaktu-waktu mengingat rekam jejak Trump yang kerap menggunakan tarif impor sebagai alat negosiasi politik sejak dilantik pada Januari lalu.

"Bagi investor yang memiliki toleransi risiko tinggi, koreksi pasar saat ini bisa menjadi peluang buy on weakness," ucap Fahmi.

Fahmi menilai strategi dollar cost averaging (DCA) juga menarik bagi investor pemula, terutama dalam mengakumulasi aset secara bertahap. Dengan harga aset kripto dan saham AS yang sudah terkoreksi, ucap Fahmi DCA dapat memberikan harga rata-rata pembelian yang lebih rendah jika tekanan pasar berlanjut.

"Bagi investor yang tidak terlalu agresif, aset-aset dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas terbesar menjadi opsi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut," kata Fahmi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement