Selasa 16 Apr 2024 12:59 WIB

Menko: Fundamental Ekonomi RI Cukup Kuat Redam Dampak Konflik Timteng

Pertumbuhan ekonomi masih terjaga di atas 5 persen dengan inflasi yang terkendali.

Menko Airlangga saat memimpin Rapat Koordinasi dengan melibatkan seluruh unsur Kedeputian bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan sejumlah Duta Besar pada Senin (15/04/2024).
Foto: ANTARA/HO-Kemenko Perekonomian
Menko Airlangga saat memimpin Rapat Koordinasi dengan melibatkan seluruh unsur Kedeputian bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan sejumlah Duta Besar pada Senin (15/04/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai saat ini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk meredam dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama pasca serangan Iran ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024).

Dia memaparkan, pertumbuhan ekonomi masih terjaga di atas 5 persen dengan inflasi yang terkendali. Sampai dengan Februari 2024, neraca perdagangan Indonesia juga masih mengalami surplus serta menopang Cadangan Devisa yang pada posisi terakhir di Maret 2024 tercatat masih kuat.

Baca Juga

"Kita harapkan para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak mengambil langkah spekulatif. Pemerintah akan terus mencermati perkembangan global dan regional yang ada serta akan mengambil langkah-langkah yang kuat dan fokus dalam menjaga stabilitas sistem keuangan," ujar Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (16/4/2024).

Airlangga mengatakan, guna meredam dampak kenaikan harga minyak global akibat konflik geopolitik Iran dan Israel, pemerintah juga mencermati kondisi APBN agar dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai shock absorber.

Saat ini pemerintah terus melaksanakan koordinasi lebih lanjut bersama otoritas moneter dan fiskal untuk menghasilkan bauran kebijakan yang tetap menjaga stabilitas ekonomi. Sebagai informasi, pasca serangan Iran ke Israel pada Sabtu malam (13/4), harga minyak mentah global masih fluktuatif.

Pada perdagangan (15/04) harga minyak mentah jenis Brent melemah 0,18 persen (dtd) ke level 90,29 dolar AS/barel, jauh lebih tinggi jika dibandingkan posisi 1 Januari 2024 sebesar 77,4 dolar AS/barel.

Sedangkan minyak mentah jenis WTI turun 0,28 persen ke level 85,42 dolar AS/barel, lebih tinggi dibandingkan posisi 1 Januari 2024 sebesar 71,65 dolar AS/barel.

Adapun sebagai respons atas perkembangan konflik di Timur Tengah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengadakan Rapat Koordinasi dengan melibatkan seluruh unsur Kedeputian bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan sejumlah Duta Besar pada Senin (15/4/2024).

Menko Airlangga turut mengundang Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Dirjen Aspasaf), Duta Besar (Dubes) RI Amman, Dubes RI Teheran, dan Perwakilan KBRI di Beirut guna menyampaikan kondisi terkini terkait situasi di Timur Tengah yang akan menjadi latarbelakang langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya.

Dubes RI di Amman (Jordania) Ade Padmo Sarwono menyampaikan harapan kiranya perkembangan ini tidak mengalami eskalasi karena akan berdampak pada ekonomi negara-negara di kawasan dan termasuk berdampak ke Indonesia.

“Berbagai pihak saat ini berupaya untuk meredam eskalasi konflik. Secara umum, ketegangan di kawasan meningkat, namun sejauh ini masih dapat dikelola,” ungkap Dubes Ade.

Dubes RI Teheran (Iran) Ronny P Yuliantoro juga menyampaikan perkembangan politik dalam negeri Iran dan antisipasi berbagai dampak eskalasi dari serangan Iran ke Israel.

“Kita perlu mengantisipasi dampak ketegangan di kawasan dan disrupsi logistik serta rantai pasok, karena pentingnya posisi dan jalur Selat Hormuz yang mengakomodasi puluhan ribu kapal per tahun,” papar Dubes Ronny.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Aspasaf Abdul Kadir Jailani juga turut menekankan perlunya antisipasi kemungkinan eskalasi dari situasi yang ada di kawasan pada saat ini.

Abdul Kadir menyampaikan bahwa semua pihak saat ini tidak menginginkan eskalasi. Namun, perlu diantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan dampaknya terhadap ekonomi mengingat nilai penting Selat Hormuz dan Laut Merah, serta pengaruh terhadap harga minyak dan biaya logistik.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement