Ahad 07 Apr 2024 09:59 WIB

Kalah dengan Produksi Luar Negeri, Manufaktur Indonesia Butuh Insentif Serius

Manufaktur merupakan penyumbang PDB terbesar dalam perekonomian Indonesia.

Pengunjung mendatangi stand dalam pameran Manufacturing Indonesia 2022 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (1/12/2022). Pameran yang berlangsung mulai hari ini hingga 3 Desember 2022, bertempat di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Event berskala internasional yang mengangkat tema Solusi Keberlanjutan untuk Industri Manufaktur (Sustainable Solutions for the Manufacturing Industry) ini mencakup ekshibisi pada mesin, peralatan, material dan jasa yang melibatkan 800 lebih peserta pameran dari 33 negara/wilayah. Foto: Tahta Aidilla/Republika
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Pengunjung mendatangi stand dalam pameran Manufacturing Indonesia 2022 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (1/12/2022). Pameran yang berlangsung mulai hari ini hingga 3 Desember 2022, bertempat di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Event berskala internasional yang mengangkat tema Solusi Keberlanjutan untuk Industri Manufaktur (Sustainable Solutions for the Manufacturing Industry) ini mencakup ekshibisi pada mesin, peralatan, material dan jasa yang melibatkan 800 lebih peserta pameran dari 33 negara/wilayah. Foto: Tahta Aidilla/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teuku Riefky mengatakan perlu adanya kejelasan insentif yang diberikan guna meningkatkan pertumbuhan industri manufaktur.

"Industri kita perlu diekspose pada persaingan dengan produk-produk luar disertai dengan insentif . Namun bukan berarti harus diproteksi secara utuh, kemudian tidak terekspose dari sisi persaingan terhadap kondisi global," katanya di Jakarta, Ahad (7/4/2024).

Baca Juga

Dirinya mengatakan sektor manufaktur mengalami berbagai tantangan yang membuat performanya tidak maksimal. Mulai dari daya saing tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja, investasi yang masuk, iklim persaingan usaha, serta infrastruktur.

Menurutnya dari sisi kebijakan fiskal Indonesia seperti bea masuk dan sebagainya ikut punya andil dalam daya saing sektor industri manufaktur Indonesia.

"Banyak kebijakan dari sisi regulasi, investasi, perbaikan infrastruktur, kemudahan berusaha, serta regulasi terkait misalnya akuisisi lahan yang memberikan dampak negatif terhadap industri dalam negeri," ujarnya.

Oleh karena itu kejelasan tersebut guna menjaga pertumbuhan manufaktur di Indonesia pasca pandemi COVID-19 yang sudah mulai pulih, serta menunjukkan perkembangan positif.

"Sektor manufaktur merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar dalam perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Adapun persepsi pelaku usaha di Indonesia saat ini ada pada teritori positif, dengan pandangan optimis mengenai pertumbuhan sektor industri manufaktur.

S&P Global merilis data Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Maret 2024 yang berada di level 54,2 atau naik 1,5 poin dibanding capaian bulan Februari yang menyentuh angka 52,7.

Angka itu menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur Indonesia sedang berada pada posisi ekspansif selama 31 bulan berturut-turut. Hal ini juga sejalan dengan capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Maret yang sama-sama berada pada fase ekspansi di level 53,05.

Kinerja PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2024 lebih baik dibandingkan PMI Manufaktur negara-negara lain yang masih berada di fase kontraksi, seperti Malaysia (48,4), Thailand (49,1), Vietnam (49,9). Bahkan pencapaian tersebut lebih baik dari beberapa negara industri maju seperti Jepang (48,2), Korea Selatan (49,3), Jerman (41,6), Prancis (45,8), dan Inggris (49,9).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement