Selasa 05 Mar 2024 21:02 WIB

China Akui Pertumbuhan Industri pada 2023 tidak Sesuai Target

Anggaran investasi dari pemerintah pusat dialokasikan mencapai 700 miliar yuan.

Kendaraan melintas di Jalan Lianshi Timur pada jam sibuk pagi hari di Beijing, ibu kota China, 3 Januari 2023.
Foto: xinhua
Kendaraan melintas di Jalan Lianshi Timur pada jam sibuk pagi hari di Beijing, ibu kota China, 3 Januari 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China mengakui pertumbuhan industri dalam negerinya tidak sesuai dengan target yang diharapkan pada 2023.

"Pertumbuhan industri tidak mencapai target yang diharapkan karena pemulihan beberapa industri gagal memenuhi proyeksi sebagai dampak dari melambatnya pertumbuhan ekspor, penurunan penjualan di pasar properti, kelebihan kapasitas di beberapa sektor dan faktor lainnya," demikian disebutkan dalam Laporan Implementasi Rencana Pembangunan Ekonomi dan Sosial 2023 dan Draf Rencana Pembangunan Ekonomi dan Sosial 2024.

Baca Juga

Laporan dari Komisi Nasional untuk Pembangunan dan Reformasi China itu dirilis saat Sidang Kongres Rakyat Nasional China (NPC) ke-14 di Balai Agung Rakyat, Beijing, China pada Selasa.

"Dalam pemulihan akibat pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama tiga tahun, perekonomian sendiri menghadapi banyak kesulitan. Isu-isu seperti ketidakcukupan permintaan konsumsi dalam negeri; ketidakmampuan dan ketiadaan kemauan untuk mengkonsumsi lebih; masalah investasi sektor properti; sektor swasta yang kurang percaya diri dalam berinvestasi; serta tekanan dari pembatasan perdagangan internasional masih menyebabkan sekotr riil menghadapi berbagai kesulitan," demikian disebutkan dalam dokumen itu.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah China bertekad kapasitas inovasi industri dapat ditingkatkan; hambatan dalam teknologi di bidang-bidang utama dapat diatasi dan mengurangi investasi berlebihan terhadap perusahaan yang masih mengalami kesulitan produksi dan operasional.

"Risiko tersembunyi, seperti risiko utang dan keuangan masih menonjol di beberapa daerah dan memerlukan waktu untuk mengembangkan model baru di sektor properti," tambahnya.

Pemerintah China mengakui ada tekanan untuk menjaga kestabilan lapangan pekerjaan maupun permasalahan pengangguran di kalangan kelompok tertentu sehingga tingkat pendapatan per kapita pun tidak berkembang.

Masalah lain adalah beberapa pemerintah provinsi tidak memiliki kemampuan untuk mencegah dan memitigasi bencana secara efektif.

"Ketika kita harus menghadapi kesulitan-kesulitan ini, kita juga harus menjaga kepercayaan diri yang teguh. Kita harus cekatan dalam menangkap peluang dari perubahan lanskap industri global dan memiliki prospek besar agar lebih memperluas kerja sama perdagangan dan investasi," lanjutnya.

Pemerintah China pada 2024 pun menargetkan untuk merangsang konsumsi digital, konsumsi ramah lingkungan, dan konsumsi layanan kesehatan sekaligus menciptakan skenario konsumsi baru.

Pemerintah akan menerapkan inisiatif "AI+" berbasis kecerdasan buatan di sektor industri dan memulai inisiatif "Data X" sehingga meningkatkan nilai tambah data.

Pada 2024, anggaran investasi dari pemerintah pusat dialokasikan mencapai 700 miliar yuan (sekitar Rp1,53 triliun) atau meningkat 20 miliar yuan dibandingkan 2023 yang berasal dari tambahan obligasi pemerintah.

Pemerintah pusat disebut juga akan mengalokasikan 370,8 miliar yuan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, (meningkat 10 persen) dengan fokus pada penelitian dasar (98 miliar yuan) yang ditargetkan untuk membuat terobosan bidang teknologi inti di bidang-bidang industri utama utama.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement