Kamis 15 Feb 2024 11:43 WIB

Harga Beras Tinggi Dinilai Akibat Produksi Domestik Terbatas

Panen besar kemungkinan baru terjadi pada akhir April atau awal Mei 2024.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Petani merontokkan gabah secara manual saat panen padi IR 64 di kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Senin (16/10/2023).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Petani merontokkan gabah secara manual saat panen padi IR 64 di kawasan Minggir, Sleman, Yogyakarta, Senin (16/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga beras di dalam negeri terus naik. Bahkan di beberapa daerah mencapai Rp 36 ribu per kilogram (kg).

Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai, saat ini produksi beras domestik memang sedang terbatas dan masih paceklik. Kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi sampai April mendatang.

Baca Juga

Ia memprekdisikan, panen besar kemungkinan baru terjadi pada akhir April atau awal Mei 2024. "Ini memang krusial karena Maret ada Ramadan dan April ada Idul Fitri," ujarnya kepada Republika, Kamis (15/2/2024).

Maka menurutnya, penting bagi pemerintah memastikan pasokan beras dalam jumlah memadai. Jika tidak, kata dia, harga potensial naik dan bisa menimbulkan kegaduhan, bahkan berdampak ke soal sosial-politik.

 

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada Januari-Februari 2024 ini masih kecil. Produksi dua bulan itu masih kurang 2,8 juta ton untuk menutupi kebutuhan konsumsi pada dua bulan tersebut. 

"Produksi di Maret lumayan gede, sehingga diperkirakan akan ada suprlus 0,97 juta ton beras. Hanya saja surplus ini dipastikan akan jadi rebutan banyak pihak," katanya.

Panen pada April mendatang pun akan bernasib sama, yakni mrnjadi rebutan banyak pihak. Terutama guna mengisi jaring-jaring distribusi yang berbulan-bulan kering karena paceklik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement