Selasa 13 Feb 2024 13:42 WIB

Harga Beras Terus Naik, Pemerintah Diminta Pastikan Impor Berjalan Lancar

Kondisi perberasan periode Februari hingga April 2024 akan masuk masa rawan.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pembeli memilih beras di salah satu agen di Kawasan Kemayoran, Jakarta, Senin (12/2/2024).
Foto: Republika/Prayogi
Pembeli memilih beras di salah satu agen di Kawasan Kemayoran, Jakarta, Senin (12/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah diminta memastikan sisa kuota impor beras segera masuk untuk menambah pasokan nasional. Hal ini dinilai perlu untuk menjaga pasokan ataupun harga beras yang terus melonjak di pasaran.

"Dalam jangka pendek tentu pemerintah perlu memastikan sisa kuota impor segera masuk untuk menambah pasokan. Karena beras impor sisa kuota tahun lalu belum semuanya masuk" ujar Koordinator Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah dalam keterangannya, Selasa (13/2/2024).

Baca Juga

Said mengatakan, dalam kurun satu pekan terakhir ketersediaan beras di pasaran sangat terbatas yang kemudian berimbas pada kenaikan harga dan langka terutama beras premium. Kondisi ini, kata Said, terjadi di beberapa wilayah termasuk di beberapa sentra produksi beras seperti di Jawa Timur.

Menurut dia, kelangkaan ini terjadi karena para pedagang/retailer juga berhati-hati karena adanya aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

 

"Yang jika tetap diterapkan maka para pelaku rantai ini akan mengalami kerugian karena harga beras sudah jauh di atas HET. pilihan tidak menjual beras daripada rugi bisa jadi diambil oleh para pedagang/retailer ini, jika demikian ketersediaan beras di pasar makin tidak ada," ujarnya.

Untuk itu, pemerintah harus melakukan berbagai upaya jangka pendek dalam mengatasi masalah perberasan hari ini. Salah satunya melakukan intervensi dengan segera mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog.

"Pada sisi lain untuk memastikan harga bisa terjaga dalam jangka pendek stok yang ada digundang Bulog perlu segera dikeluarkan dalam bentuk operasi pasar," ujarnya.

Ia menyebut kondisi perberasan periode Februari hingga April 2024 ini memang akan mengalami masa rawan. Hal ini karena produksi padi mengalami penurunan dampak El Nino yang mengakibatkan masa tanam mundur.

Kondisi ini kata Said, membuat masa panen raya mundur, sementara konsumsi naik terutama menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

"Pada akhir tahun lalu sebenarnya sudah bisa prediksi kita akan mengalami masa rawan periode Februari-April. Pada periode ini ada beberapa situasi yang memungkinkannya seperti masa panen raya yang akan mundur hingga Mei, konsumsi bisa jadi naik terutama pada perayaan idul fitri. Situasi ini makin berat ketika pangan terutama beras dijadikan instrumen kampanye," ujarnya.

Said optimistis jika berbagai langkah itu dilakukan pemerintah maka bisa mengatasi kondisi perberasan hari ini hingga panen raya tiba.

"Untuk panen raya bulan April-Mei jika tidak ada kendala produksinya cukup baik," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional memastikan ketersediaan stok beras terjaga hingga lebaran mendatang. Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi optimistis dengan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog saat ini sekitar 1,3 juta ton cukup untuk kebutuhan masyarakat saat ini menjelang Ramadhan hingga lebaran.

"Kita jaga stok Bulog 1,3 juta ton," ujar Arief.

Arief menyebut, proyeksi produksi beras nasional juga menurut Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik akan bertambah seiring dengan dimulainya panen besar mulai Maret 2023 mendatang. Hal ini akan menutupi kekurangan 2,8 juta ton pada Januari-Februari antara produksi dengan konsumsi.

"Semoga panen mulai baik bulan Maret 3,5 juta ton seperti KSA BPS," ujar Arief.

Sebelumnya, Arief juga menyebut kekurangan produksi beras nasional ini sudah diantisipasi pemerintah jauh-jauh hari dengan kebijakan importasi. Menurutnya, beras impor eks 2023 masuk sekitar 500 ribu ton di awal 2024 ini dan selanjutnya akan masuk lagi sekitar 500 ribu ton.

Di samping itu, langkah yang dilakukan pemerintah saat ini adalah mempercepat bongkar kapal beras eks impor di beberapa pelabuhan.

"Dijaga keseimbangan antara masuk impor dengan produksi lokal. CPP Beras di Bulog dijaga di atas 1,2 juta ton. Walaupun sangat pahit, Importasi saat ini harus dijalankan. Mungkin tidak populer saya sampaikan, tetapi hafus dikerjakan untuk pemenuhan kebutuhan saat ini," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement