Senin 08 Jan 2024 11:30 WIB

Kapal Kargo Hindari Laut Merah dan Houthi, Ini Prediksi Kenaikan Tarif Logistik

Maersk menyebut pengalihan jalur ini dilakukan untuk waktu yang tidak diprediksi.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ilustrasi logistik Maersk.
Foto: AP Photo
Ilustrasi logistik Maersk.

REPUBLIKA.CO.ID, KOPENHAGEN -- Raksasa logistik asal Denmark, Maersk, berencana mengalihkan semua kapal peti kemasnya dari rute Laut Merah ke sekitar Tanjung Harapan, Afrika. Dialihkannya rute perjalanan dengan mengelilingi benua Afrika ini dilakukan untuk menghindari risiko serangan kelompok Houthi di Laut Merah, yang telah menimbulkan kekhawatiran logistik global dalam beberapa hari terakhir.

"Situasinya terus berkembang dan masih sangat tidak stabil. Dengan menangguhkan pelayaran melalui Laut Merah, kami berharap dapat memberikan pelanggan kami lebih banyak konsistensi dan prediktabilitas meskipun ada penundaan terkait dengan rute ulang. Semua informasi intelijen yang tersedia mengkonfirmasi bahwa risiko keamanan terus berada pada tingkat yang sangat tinggi," kata perusahaan yang berbasis di Kopenhagen dalam sebuah pernyataan di situs webnya seperti tertulis di Reuters dikutip Ahad (7/1/2024).

Baca Juga

Maersk juga menyebut pengalihan jalur ini dilakukan untuk waktu yang tidak dapat diprediksi. Maersk juga mengingatkan kepada para pelanggannya untuk bersiap menghadapi gangguan yang signifikan.

Sebelumnya, Hapag Lloyd mengeluarkan biaya sekitar dua digit juta Euro pada pertengahan hingga akhir Desember lalu setelah  mengalihkan 25 kapal miliknya. Saat ini, pengiriman di seluruh dunia beralih dari Laut Merah, rute terpendek dari Asia ke Eropa melalui Terusan Suez. Pengalihan ini dilakukan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meningkatkan serangannya terhadap kapal-kapal di Kawasan Teluk sebagai bentuk dukungannya terhadap kelompok Islam Palestina, Hamas yang sedang melawan penjajahan Israel di Gaza. 

 

Dengan pengalihan rute ini,waktu tempuh perjalanan kapal akan memakan waktu yang lebih lama yakni sekitar 10 hari. Dengan kondisi seperti itu, bahan bakar yang dibutuhkan pun lebih banyak hingga 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 15 miliar untuk setiap perjalanan pulang pergi Asia-Eropa Utara. 

Namun, adanya pengalihan ini juga berdampak positif bagi saham-saham perusahaan pelayaran, yang merupakan saham-saham dengan kinerja terbaik di Eropa sejak awal tahun ini, lantaran investor memperkirakan akan adanya kenaikan tarif angkutan sehingga memberikan angin segar pada sektor ini. Biaya yang lebih tinggi ini sebenarnya juga menimbulkan kekhawatiran kembalinya inflasi di zona Euro. 

Goldman Sachs pada Jumat lalu menaikkan perkiraan inflasi di zona Euro pada Mei 2024 menjadi 2,3 persen dari 2,2 persen sebagai akibat dari lonjakan biaya pengiriman. Goldman juga mengatakan, pengalihan rute kargo yang berkepanjangan dari Laut Merah akan berdampak buruk dan menyebabkan inflasi yang lebih besar.

"Analis ekuitas kami memperkirakan bahwa guncangan ini tidak akan seburuk atau berkepanjangan seperti 2020-2022 karena peningkatan pasokan kapal dan tidak ada kemacetan pelabuhan akibat lockdown," kata Goldman Sachs yang membandingkan kondisi saat ini dengan era pandemi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement