Jumat 05 Jan 2024 18:34 WIB

Mobil Hybrid Masih Jadi Kendaraan Ramah Lingkungan Pilihan Masyarakat

Pertumbuhan kendaraan elektrik hybrid menunjukkan tren yang positif sejak dua tahun.

Sebuah mobil listrik Toyota terlihat di Bangkok International Motor Show di Bangkok, Thailand, 30 Maret 2022. Toyota investasi 50 miliar baht untuk mengembangkan mobil listrik di Thailand.
Foto: REUTERS
Sebuah mobil listrik Toyota terlihat di Bangkok International Motor Show di Bangkok, Thailand, 30 Maret 2022. Toyota investasi 50 miliar baht untuk mengembangkan mobil listrik di Thailand.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu menilai bahwa kendaraan berteknologi hybrid masih menjadi pilihan yang relevan oleh konsumen elektrifikasi di Indonesia. Pergeseran ICE ke EV akan berlangsung secara mulus selama 2024. 

"Penjualan terbesar justru terjadi pada kendaraan hybrid. Kendala harga baterai yang memiliki harga masih mahal tetap masih menjadi tantangannya,” kata Yannes di Jakarta, Jumat (4/1/2024).

Baca Juga

Pertumbuhan kendaraan elektrik berbasis hybrid menunjukkan tren yang positif sejak dua tahun belakangan. Pada 2022, kendaraan hybrid terjual 10 ribu unit dalam satu tahun, begitu juga dengan kendaraan elektrik.

Sepanjang 2023, tren penjualan kendaraan hybrid yang di dalamnya masih menggunakan mesin konvensional melonjak drastis sebanyak 40 ribu unit hingga November 2023. Sedangkan kendaraan elektrik murni, data Gaikindo menunjukkan penjualan kendaraan yang tidak menghasilkan emisi tersebut hanya bisa mencapai 14 ribu unit hingga November 2023.

 

Oleh karena itu, pemerintah dan juga produsen otomotif Indonesia masih perlu bekerja keras untuk mengedukasi konsumen agar mau beralih ke kendaraan bersih emisi tersebut pada tahun ini. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, yang membuat tren beralih dari kendaraan konvensional ke elektrik penuh masih cenderung santai atau tidak seperti negara-negara lainnya.

Menurut Yannes, para produsen otomotif baru yang membawa berbagai kendaraan elektrik penuh mereka perlu strategi yang menyeluruh. Pertama, produk harus disesuaikan dengan pasar lokal, mempertimbangkan kondisi geografis, infrastruktur, preferensi desain, jangkauan baterai, dan juga yang terpenting adalah harga.

Selain itu, jangkauan baterai yang lebih jauh juga perlu menjadi perhatian khusus bagi para produsen otomotif yang hendak menyediakan varian elektrik penuh untuk konsumen Indonesia.

“Produsen juga harus fokus pada inovasi teknologi seperti baterai berkapasitas tinggi dan fitur konektivitas canggih. Kolaborasi dengan penyedia layanan keuangan untuk menyediakan opsi pembiayaan yang menarik akan meningkatkan aksesibilitas EV,” ucap Yannes.

Yannes menilai para produsen dan juga pemerintah harus berani untuk berinvestasi pada berbagai fasilitas yang menunjang kenyamanan para pengguna kendaraan elektrik.

“Investasi dalam infrastruktur pengisian, termasuk stasiun pengisian cepat, dapat mengurangi kekhawatiran konsumen. Penetapan harga yang kompetitif, mungkin dengan dukungan subsidi pemerintah, akan menjadikan EV lebih terjangkau,” Yannes menjelaskan.

Penyedia asupan listrik milik pemerintah PT PLN (Persero) telah menorehkan catatan yang positif selama 2024. Selama satu tahun yang lalu, PLN setidaknya telah membangun 54 unit stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

PLN kini memiliki 624 SPKLU yang tersebar di 411 wilayah di seluruh Indonesia. Saat ini, penyebaran SPKLU milik PLN telah tersebar di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta sebanyak 113 SPKLU yang berada di 43 titik, Jawa Barat sebanyak 150 SPKLU dengan penyebaran di 125 titik, Papua sebanyak empat SPKLU dan juga 25 SPKLU di Nusa Tenggara.

“Akhirnya, mengikuti tren dan dinamika pasar akan membantu produsen tetap relevan dan kompetitif di industri otomotif Indonesia yang sedang menggeliat menuju ekosistem EV tersebut,” kata Yannes.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement